Karaton Kasunanan Surakarta

Bangunan Karaton Surakarta diusahakan mengikuti pola Karaton lama, letaknya membujur dari arah utara ke selatan, adanya Kori Kamandungan dan Prabasuyasa mengikuti Kartasura. Alun-alun, Manguntur dan Wismaya penangkilan mengikuti Negarakertagama. Selain itu adanya tembok trancangan untuk memagari alun-alaun, aling-aling di Sri Manganti, Gapura, Candi Bentar, semuanya mengikuti pola jaman Majapahit atau sebelumnya ( Lombard, III ). Sumber lisan menyebutkan, susunan letak bangunan di kompleks istana meniru susunan istana Bathara Indra di Kaindran Jonggring Saloka ( Tiknopranata, 1962 : 66 ) atau meniru istana Majapahit ( Slamet Mulyana, 1965 : lampiran ; B. Schrieke, 1957 : 127 ) di mana bangunan induk ( Prabasuyasa ) menghadap keselatan, pendapa ( Sasana Sewaka ) menghadap ke timur dan Siti Hinggil dan Pengelaran ( Sasana Sumewa ) menghadap ke utara.

Tata letak Karaton menunjukkan konsep lingkaran-lingkaran konsentris. Di tengah-tengah : Karaton, tempat kediaman raja, ruang yang diistimewakan, dengan parentah jeronya. Di sekitar istana : Ibu kota atau negara, tempat kedudukan parentah jobo, tempat kaum bangsawan di bawah wewenang patih atau “ perdana menteri “. Di sekitar ibu kota adalah lingkaran negaraagung, ibu kota besar atau ibu kota dalam arti luas. Semua tanah negaragung berupa tanah lungguh sebagai gaji pejabat kerajaan dan pengelolaannya diserahkan kepada para bekel. Terakhir adalah daerah mancanegara dan pasisiran atau daerah luar lungguh di bawah seorang bupati ( Lombart, III : 99 )

Di balik pandangan lingkaran-lingkaran konsentris yang global yang merupakan pandangan dari Karaton dan kalangan Karaton, pada tingkat miskrosmos desa-desa juga terdapat suatu konsep ruang, yaitu konsep mencapat mancalima. Sistem mancapat tetap mencerminkan keunggulan pusat, akan tetapi dengan tambahan bahwa daerah pinggirannya terbagi atas empat bagian, yang berkaitan dengan salah satu mata angin. (pigeaud (1928) menghubungkan manca dengan kanca (dengan perantaraan suatu rumus hipotesis kumanca); namun, etimologi telah dilipakan di Jawa dan pada umumnya manca dihubungkan dengan panca “lima”. Maka van Ossenbruggen (1918) menjelaskan mencapat dengan “lima dan empat”. Sistem mancapat itu sudah lama berlaku di daerah pedesaan: di sekeliling sebuah tertentu terkelompok “empat” desa tetangga yang masing-masing terletak di sebelah timur, selatan, barat, dan utara, dan bersama dengan desa di pusat membentuk suatu kesatuan terpadu yang menyiratkan adanya beberapa kewajiban yang harus dipenuhi. Sebagaimana orang perorangan hanya ada berkat hubungan-hubungannya terhadap kelompoknya, desa hanya berfungsi dalam hubungan dengan desa-desa yang mengelilinginya.

Sistem mancapat memegang peran pokok dalam mentalitas orang Jawa, karena berfungsi sebagai sistem klasifikasi. Pada setiap arah mata angin sesungguhnya terkait tidak hanya dengan seorang dewa tetapi juga warna dasar, logam, cairan, hewan, sederet huruf, bahkan hari sepekan. Bukan hanya ruang dalam arti geometrisnya, akan tetapi manusia seutuhnya yang terbagi dalam lima (atau sembilan) kategori menurut suatu sistem perpadanan yang tidak kepalang tanggung. Timur berpadanan dengan warna putih, perak, santan; selatan dengan warna merah, tembaga, darah; barat dengan warna kuning, emas dan madu; utara dengan warna hitam, besi dan nila. Akhirnya, pusat yang seakan-akan sintesis dari keempat arah mata angin dan yang meringkaskan sifat-sifatnya, berpadanan dengan warna-warni, perunggu (logam campuran) dan air yang mendidih (wedang). Damais (1969) menunjukkan bahwa sistem menurut arah mata angin dengan lima warna dasar putih, merah, kuning, hitam (biru-hitam) dan pancawarna itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perlambangan India atau Cina dan semata-mata bersifat Nusantara.

Siklus 210 hari (5 x 6 x 7) atau Galungan di Bali, dibagi lagi menjadi 30 periode dari 7 hari yang dinamakan wuku (“buku bambu”, persendian) yang masing-masing mempunyai nama dan kekhasan tersendiri.

Dibalik waktu yang berkeping-keping dalam sklus 210 hari, sedikit demi sedikit telah terbrntuk suatu gagasan akan waktu bersiklus yang berskala lebih besar. Gagasan itu mungkin saja diambil dari kosmogoni India yang mengenal empat yuga yang silih berganti. Yuga yang penghabisan, yaitu kaliyuga, ditandai malapetaka dan bencana untuk mendahului awal yang baru. Penulis Babad seringkali merekam sejarah Jawa dalam tiga siklus (Centini), masing-masing tujuh ratus tahun. Tiap siklus terdiri atas tujuh “siklus kecil” dari seratus tahun, yang ditandai oleh karaton yang berbeda-beda (Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, mataram, Kartasura, Surakarta). Setiap abad akhirnya terbagi ke dalam tiga periode dari masing-masing 33, 33, dan 34 tahun.

Menurut RM Riya Yasadipura (1982), karaton dijaga oleh kekuatan yang berada di setiap arah mata angin, yaitu :

  1. Di sebelah timur : Sunan Lawu tua, S. Lawu Bagoes, dan S. Lawu Muda
  2. Sebelah selatan : Ratu Kidul (K.R. Kencanasari), dan Kyai Udonanggo atau Widonanggo, tidak pria atau wanita, tinggal di Dlepih. Juga K.R. Kencono Wungu yang tinggal di Guwo Kalak.
  3. Sebelah barat : K.R. Sekar Kedhaton (Merapi), Kyai Sapoe Jgad dan Sapoe Regol
  4. Sebelah utara : K.R. Bathari Kalayuwati tinggal di Hutan krendhawahana. Sering pindah tempat ke

Tirtadhasar di Pelabuhan Ratu.
Lalu yang menjaga gunung kendheng, hutan roban (P. Singasari), dan Kyai Proboyoso di laut utara.

Pandangan mistis tersebut berpangkal pada konsep “Sadulur papat limo pancer”. Untuk itu harus minta berkah Dewa Arah Mata Angin. Arah Timur atau disebut “Purwaning Dumadi”, asal mula segala sesuatu, “mapag sang suryamisesa”. Untuk itulah maka bengunan karataon disesuaikan dengan arah atau menghadapnya: “Pendhapa Besar” menghadap ke timur. Watak timur bathara mahadewa bathari mahadewi, pasaran legi, manuk kunthul, kutha nelaska, berpakaian serba putih. “Dalem Ageng” menghadap ke selatan. Wataknya bathara samba, bathari swacnyana, pasaran pahing, manuk wulung, sagara getih, kithane tembaga, berpakaian serba merah . Sebelah barat Dalem Ageng terdapat bengunan yang disebut Bendengan, menghadap ke barat , sebagai tempat bersemedi. Barat wataknya, bathara Kumajaya bathara Kumaratih, pasaran pon, manuk podhang, segara madu, berpakaian serba kuning. Gapura terakhir masuk kedhaton menghadap ke utara. Wataknya, bethara wisnu bathari sri, pasaran wage, manuk gagak, sagara nila, kutha wesi, berpakaian serba hitam (Serat Kawruh Kalang, Sanapustaka).

Usaha klasifikasi sekaligus pembagian dan penertiban paling tampak di pusat, terutama pada denah ibukota yang dirancang seperti Mandala, yaitu sejenis maket kosmos. Sesuai prinsip-prinsip naskah sansekerta kuno Vastu Sastra, denah itu berpedoman pada keempat arah mata angin dan diatur menurut dua poros besarn yang saling memotong dengan tegak lurus, yang pada umumnya menghasilkan susunan “tapak catur”. Di jantung kota berdiri istana yang merupakan intinya; kota hanyalah bungkusnya. Mandala (Jawa kuno; dari Sk), artinya tempat tinggal sebuah kelopok rohaniawan. Hal ini juga dihubungkan dengan pengertian dharma, yaitu tanah pertanian yang dikelola oleh kaum rohaniawan (dan diurus sesuai dengan peraturan dharma atau tertib, peraturan moral; dharma lepas “tanah bebas pajak”).

Pos ini dipublikasikan di Kasunanan, Keraton. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s