Jamu

Pada waktu penjajahan Belanda ada beberapa jenis tumbuh-tumbuhan obat memang sudah dilakukan penelitian-penelitian dan hasilnyapun tidak mengecewakan. Diantaranya memang sudah ada yang mempunyai nilai terapeotik yang menyakinkan misalnya : kumis kucing, temulawak, kunyit, babakan pulai dan lain-lainnya. Dengan sendirinya diutamakan tumbuh-tumbuhan obat yang mempunyai segi-segi komersil yang baik.  
Pada jaman pendudukan Jepang dan pada waktu revolusi fisik, obat-obatan moderend sudah sukar didapat, dan kalaupun ada harganya sudah tidak terjangkau oleh daya beli rakyat jelata. Terdorong rasa turut bertanggung jawab dan hasrat ingin membantu rakyat dengan obet yang mudah dan murah didapat, beberapa orang dokter telah mengambil prakarsa mencoba obat-obat asli ini langsung secara klinis terhadap kasiatnya yang diperkirakan. Dari hasilhasil percobaan ini antara lain terbitla buku “ Formularium medicamentorum Soloensis”
yaitu suatu buku yang memuat ramuan dari obat-obat asli yang sangat bermanfaat bagi pengobatan penyakit-penyakit yang banyak diderita rtakyat dewasa itu. Setelah diperoleh kemerdekaan, dan obat-obat moderen membanjiri pasaran. Percobaan klinis tidak dilakukan lai terhadap obat-obat asli. Hal ini sangat disayangkan mengingat potensi-potensi yanh masih tersembunyi didalam Jamu-Jamu kita. Padahal cara-cara yang telah dikerjakan oleh dokter-dokter kita, sampai sekarang nasis duilakukan oleh dokter-dokter dinegara Tetangga kita seperti : India, RRC, terhadap obat-obat asli dari negaranya masig –masing dapam rangka penggalian sumber-sumber alam untuk keperluan farmasi. Berbeda dengan di Indonesia., dikedua negara tetangga tersebut ilmu pengi=obatan tradisionil telah pula disesuaikan dengan perubahan jaman. Marilah kita tinjau sejenak sejarah perkembangan ilmu pengobatan tradisional tersebut di negara tersebut:
Negeri India
Dalam peninggalan-peninggalan tertua yang ditemukan adalah kitab “ RIGVEDHA” diperkirakan ditulis sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Selain menguraikan ilmu pengobatan dari jaman iyu, juga mencantumkan ssejumlah bahan yang digunakan sebagai obat, menyusul kemudian kitab “Ayurvedha” berasal kira-kira dari tahun 1500 sebelum masehi dan yang terdiri dari beberapa jilid. Kitab ini secara terperinci juga menguraikan suatu sistem ikmu pengobatan yang dikenal dengan sistem Ayurvedha yang antara lain meguraikan tentang teori “Tridosha”. Teori ini terdiri dari Vayu, pitta dan kapha.
Vayu atau angin mewakili susunan syaraf pusat. Pitta atau empedu, seluruh metabolisme didalam tubuh. Kapha atau lendir mewakili pengaturan suhu tubuh oleh cairan-cairan tubuh. Kapha atau lendir mewakili pengaturan suhu tubuh. Kitab inipun meuat kurang lebih 1500 jenis bahan obat yang sebagian besar berasal dari tumbuh-tumbuhan selebihnya dari hewan dan mineral, lengkap dengan pemiaraannya, pengolahannya, dan penggunaannya. Sistem pengobatan Ayurvedha inilah yang kemudian berkembang sedemikian rupa sehingga pemerintah India mengaggap perlu mendirikan perguruan tinggi khusus untuk mempelajari sistem ilmu pengobatan ini.
Dengan masuknya bagsa-bangsa lain ke India yang pada umumny merekapun membawa sistem ilmu pengobatan dari negara masing masing-masing, maka selain dari sistem pengobatan  Ayurvedha di India, tedapat pula antara lain ilmu pengobatan Yunani dan Tibbi. Akhirnya sedikit banyak ilmu-ilmu pengobatan ini bercampur dan menjadi ilmu pengobatan tradisionil India dewasa ini. Kitab-kitab yang kemudian menyusul adalah kitab “ Sushruta Samhita “ kira-kira berasal dari tahun 1000 sebelum masehi dan kitab “ Charaka Samhita “ kira-kira berasal dari tahun 350. Kitab terakhir ini memuat kira-kira 2000 jenis bahan obat yang sebagian besar lagi, terdiri atas tumbuh-tumbuhan dan sebagian kecil terdiri dari hewan dan mineral, lengkap dengan penanamannya, pengumpulan bagian-bagian yang dipakai, khasiatnya beserta ramuan-ramuan yang dibuat dari materia medica itu.
Penyelidikan-penyelidikan secara moderm dan sistematis baru dimulia pada tahun 1928. Salah seorang pionir dalam bidang adalah Prof. Dr. Sir Ramnath Chopra, pada waktu itu profesor dalam farmakologi dari School for tropical medicine di Calcutta.
Negeri Cina
Peninggalan yang tertua adalah kitab “ Pen Tsao “ dari 3500 tahun sebelum masehi. Kitab ini adalah hasil karya seorang Kaisar bernama Shen Nung yang menulis ilmu pengobatan dari zaman itu serta penggunaan dari 350 jenis tumbuh-tumbuhan sebagai obat. Selanjutnya ilmu pengobatan kuno ini dari zaman ke zaman dan dari dinasti ke dinasti terus berkembang serta menghasilkan pula tabib-tabib yang kenamaan.
Pada zaman dinasti han 350 tahun sebelum masehi, kitab Pen Tsao kaisar Shen Nung mngalami revisi besar-besaran serta disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengobatan dan ditambah dengan hasil-hasil penelitian dan penyelidikan-penyelidikan yang baru. Kitab ini disebut Shen Nung Materia Medica. Ilmu pengobatan ini semakin berkembang sehingga menelorkan hasil-hasil karya seperti :
Tang Materia Medica,     Shu Materia Medica ,       Kai Pao Materia
Chia Yu Materia   dan   The Classified Materia Madica.
Kitab yang terakhir ini ditulus oleh Tang Shen Wei seorang tabib ternama dari dinasti Sung, kira-kira pada tahun 1200.
Dari 350 jenis tumbuh-tumbuh obat yang tertera dalam Pen Tsao dari kaisar Shen Nung sekarang telah menjadi 1000 jenis bahan obat lengkap dengan pemeriannya, penanamannya, pengumpulan khasiatnya, ramuan, dan penggunaannya. Setelah dinasti Sung tidak ada lagi catatan-catatan tentang perkembangan ilmu pengobatan tradisional.
Baru baru abad ke 16 yaitu sewaktu dinasti Ming tampil sebagai seorang tabib dan ahli farmasi bernama Lie Shih Chen yang banyak jasanya dalam membantu berkembangnya ilmu pengobatan tradisionil dengan car-cara penyelidikannya yang orisinil, ia diberi julukan “ The Great Pharmocologist Of Ancient China “ semua pengalaman dari hasil penyelidikannya dibukukan dalam sebuah kitab yang berjudul “ Pen Tsao Kang Mu “ atau “ The Compendium of Materia Madica “
Kitab ini merupakan suatu “ masterpiece “ dan sampai sekarang masih merupakan bahan pelajaran mahasiswa kedokteran kuno maupun modern dan menjadi pegangan bagi sarjana-sarjana yang melekukan penelitia-penelitian ilmiah dari obat-obat asli Cina. Pen Tsao Kang Mu memuat 1892 jenis bahan obat lengkap dengan cara pemiaraan, penanaman, pengumpulan, penelitian, khasiat ramuannya, penggunaannya dll. Setelah dinasti Ming ilmu pengobatan tradisionil tidak ada yang mnegmbangkan lagi. Ini sebagian disebabkan oleh karena masuknya ilmu pengobatan barat ke negeri Cina.
Dewasa ini negeri Cina sedang giat melakukan penelitian-penelitian ilmiah secara sistematis dan itensif terhadap obat-obat asli ini. Di tiap ibu kota propinsi terdapat laboratoria dan lembaga penelitian yang lengkap dengan alat-alatnya yang modern.
Kekurangan kita.  
Setelah kita melihat perkembangan ilmu pengobatan tradisinal di dua negara tetangga tersebut, nyatalah bahwa kekurangan kita bahwa sejak semula di Indonesia ilmu ini tidak ada yang membukukan hanya diturunkan secara lisan dari orang tua ke anak. Baru pada jaman kolonial mulai ada orang –orang mencatat antara oleh Jacobus Bontius 1627 dengan hasil karyanya “ histiria Naturalist et Medica Indiae “ yang memuat 60 buah lukisan tumbuh-tumbuhan obat Indonesia serta pemerian dan penggunaannya. Georgius Everhardus Rhumphius ( 1628 – 1702 ) yang menetap di Maluku dan mengadakan penyelidikan terhadap flora dan fauna kepulauan ini. Hasil karyanya adalah “ Amboinisch Kruidboek “ dan Herbarium Amboinense.
Kemudian berturut-turut banyak lagi penulis-penulis tentang obat-obat asli indonesia, terlalu banyak untuk diuraikan satu persatu.
Penelitian secara alamiah
Penelitian secara alamiah baru dilakukan pada akhir abad ke s19, antara lain oleh Gresshoff, Vordermann, Boorsman dan lain-lain. Yang menghasilkan buku-buku anatar lain “ Onderzoek Naar De Planten stoffen Van Ned – Indie :” 1890 “ Javaanse Geneesmiddelen “ 1894 “ Aanteekening Over Oostersche Geneesmiddelleer op Java “ 1913. Sebagimana kita lihat inventarisasi dari obat-obat asli dan penyelidikan permulaannya sudah dilakukan. Usaha ini harus diteruskan, karena merupakan titik tolak yang penting dalam penggalian sumber-sumber alam untuk keperluan farmasi.
Follow Up
Sebagai follow upnya dari hasil inventarisasi harus dilakukan checking dab screening secara sistematis terhadap hasil karya para penulis dan penyelidik terdahulu, disamping tentunya mencari potensi-potensi baru dari sumber-sumber alam, bukan hanya dari Jawa tetapi juga dari daerah-daerah luar Jawa, misalnya tabat barito dan pasak bumi yang dewasa ini sedang populer dan berasal dari Kalimantan, belum pernah diadakan secara ilmiah. Penggunaannya sama halnya dengan sebagian besar dari jamu-jamu kita, masih berdasarkan impiri.
Kami yakin masih banyak lagi potensi-potensi yang tersembunyi diantara obat-obat asli kita. Jamu masih tetap merupakan salah satu mata rantai penting dalam membantu meningkatkan kesehatan rakyat dan, perlu sekali diadakan penelitian secara alamiah yang sistematis dan terkoordinir sehingga manfaat dari jamu akan lebih dirasakan oleh rakyat. Untuk mengadakan penelitian-penelitian ini kerjasama yang baik antara industri-industri jamu dan fakultas-fakultas farmasi, kedokteran dan lain-lain adalah suatu keharusan sehingga tercapailah cita-cita kita untuk :

Menyelidiki obat-obat asli kita dengan tujuan menemukan obat baru dan dapat digunakan dalam ilmu pengobatan modern. Indonesia berswasembada dalam bahan-bahan obat menggunakan sumber-sumber alamnya sendiri. Mengusahakan agar obat-obat ini murah dan mudah didapat oleh rakyat Indonesia.

Pos ini dipublikasikan di Tradisi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s