Gamelan

GAMELAN
Simponi Musik Jawa Bercita Rasa Keselarasan Hidup
Untuk menata segala kehidupan menjadi selaras dalam kehidupan duniawi dan rohani/batin adalah pandangan hidup dan kesehari-harian masyarakat jawa pada umumnya, misalnya cara berbusana yang serasi (tidak kontras, tidak seronok, tidak selalu mencari perhatian), keselarasan dalam berbicara meskipun sedang dalam emosi batin yang meledak-ledak tetap berusaha santun dalam mengungkapkan isi hatinya. Ngono ya ngono nanging aja ngono (begitu ya begitu tapi jangan begitu) adalah peribahasa jawa dalam mengungkapkan keselarasan dapat menahan emosi.
eselarasan berarti dirinya dapat mengatur keseimbangan emosi dan menata perilaku yang laras, harmonis dan tidak menimbulkan kegoncangan. Saling menjaga diri, saling menjaga cipta, rasa, karsa dan perilaku, adalah pandangan hidup dan realitas hidupnya walau terjadi ritme-ritme karena dinamika kehidupan masyarakat. Dari sini maka irama Gendhing/musik dari Gamelan termasuk tembang jawa itu disusun dan dibuat.
Anda bisa memperhatikan urut-urutan dari alat gamelan ketika dibunyikan dalam sebuah irama Gending. Perhatikan saja tarikan dari tali rebab, disusul bunyi suara dari bilah-bilah logam kuningan yang disebut slentem, lalu bunyi saron, kendhang, kenong, gambang, dan lain-lainnya, yang selalu diakhiri suara gong di penghujung bait irama gendhing. Disini, muncul keselarasan jiwa dan rasa. Namun, jika ditanyakan sejak kapan dan siapa yang awalnya membuat, sulit untuk dilacak. Yang jelas sudah sangat tua, dimana Anda dapat melihat pada relief Candi Borobudur (abad VIII).
Boleh jadi perkembangannya dimulai dari kenthongan, tepukan tangan, pukulan ke mulut, gesekan pada tali/bambu tipis, dsbnya. L alu alat musik jawa itu berkembang dalam bentuk bilahan kayu, bambu atau lempengan besi, lembaran kulit dan bambu yang dilubangi.
etelah menjadi seperangkat alat musik jawa bernama Gamelan, maka mulailah digunakan yang mula-mula untuk mengiringi tarian, dan semakin semarak karena di dukung lagu (tembang) oleh penyanyi (swarawati/wiraswara). Kemudian berfungsi pula untuk menyemarakkan upacara-upacara di lingkungan Karaton maupun di tempat-tempat upacara pemujaan. Namun yang paling intensif ialah untuk mengiringi pagelaran wayang atau tari dan seni panggung (kethoprak atau sendratari).
Gamelan akan bersuara merdu, mantap dan tidak sember/fals, tergantung dari bahannya. Yang paling baik jika dibuat dari bahan perunggu, tapi biayanya sangat mahal. Atau bisa juga dari besi kualitas unggul, walau suaranya tentu kurang merdu, kurang mantap dan kemlonthong. Gamelan/Gongso/”Pradonggo”(Kawi) berasal dari kata: temba ga + raja sa adalah bahan logam yang dicampur menjadi instrumen Gamelan: “gasa” diper luwes menjadi Gongso. Secara keseluruhan instrumental komplit Gamelan selain dari bahan logam, ada yang berbahan kayu, misalnya: gambang, demung, barung, peking, slentem, ditambah alat tiup suling dan alat gebuk kendang dan bedug , alat gesek rebab dan alat petik siter.
Di Solo misalnya, upacara Kirab Gunungan Sekaten pada bulan Maulid untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW, dari Karaton Kasunanan Surakarta ke Mesjid Agung di Alun-alun Utara juga diiringi irama Gendhing Carabalen dari perangkat Gamelan yang terdiri dari saron, centhe, keprak, kenong. Selama sepekan, maka Gamelan yang terdiri dari Kyai Guntursaroi dan Gunturmadu dikumandangkan oleh para niyaga (penabuh/pemusik) Karaton dari Bangsal Pradangga di halaman Masjid Agung.
Di Karaton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunagaran maupun Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman terdapat perangkat Gamelan peninggalan para leluhurnya. Sebagai contoh adalah perangkat Gamelan yang ada di Kasunanan Surakarta yang merupakan warisan pusaka dari masa Kerajaan Majapahit dengan keunggulan kualitas suara yang merdu, mantap dan lembut (perangkat Udan Riris, Kanyut Manis untuk pengiring upacara).
Ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma memimpin Mataram juga membuat perangkat Gamelan dan Gendhing-gendhing. Gendhing Ketawang Ageng yang digunakan untuk mengiringiupacara peringatan Jumenengan sang raja trah Mataram merupakan karya besar dari pakar seni karawitan di Karaton yang ilhamnya dari penghayatan terhadap alam lingkungan.
Di Kasultanan Yogyakarta dibuat duplikat perangkat Gamelan Sekaten yang menjadi pelengkap dari sisa Gamelan Sekaten warisan Majapahit, yang kemudian disebut Kyai Nagailaga. Duplikat gamelan Sekaten juga telah dibuat oleh Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta ketika masih bertempat di Sasanamulya, yang pengecoran logam sampai dengan jadinya digarap oleh pengrajin Gamelan di desa Wirun – Bekonang Sukaharjo.
Pura Mangkunagaran dulu punya pabrik pembuat Gamelan di bagian timur komplek Pura yang saat ini telah pindah ke daerah Manahan, yang salah satu buatannya yang cukup baik sudah berpindah ke luar negeri.*
Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s