Simbol di Karaton Surakarta

Radya Laksana sebagai lambang atau simbol Karaton Surakarta memiliki makna simbolis dan makna filosofis dalam kehidupan Karaton khususnya dan kehidupan masyarakat pada umumnya. Kedua makna itu akan dijelaskan dalam uraian berikut ini.

1. Makna Simbolis

Radya memiliki makna historis. Makna Historis yaitu makna yang berhubungan dengan sejarah, dalam hal ini asal usul raja mulai dari Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana I. Sejarah raja merupakan silsilah yang tercermin dalam lingkaran bulat telur. Gambar paku dan bumi menunjukkan nama Paku Buwana, yaitu Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana I. Nama tersebut kemudian dipakai sebagai nama raja-raja yang memerintah Karaton Surakarta dan Sinuhun Paku Buwana I hingga Paku Buwana XII

Gambar Surya (matahari) mengisyaratkan nama R.M.G. Sasangka, yang kemudian bernama Panembahan Purbaya. Kemudian gambar bintang, dalam bahasa Jawa disebut Kartika atau Sudama, mengisyaratkan nama R.M.G. Sudama yang kemudian bergelar Pangeran Balitar. Makna historis tersebut selengkapnya dapat diperiksa pada Bagan Silsilah.

Radya Laksana di samping makna utamanya sebagai Silsilah Karaton Surakarta juga memiliki makna sebagai penanda identitas dan penanda estis.

Radya Laksana sebagai penanda identitas maksudnya sebagai identitas Karabat Karaton Surakarta. Adapun yang termasuk kerabat Karaton yaitu :

1. Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Knagjeng Susuhunan Paku Buwana

2. Para putra-putri dalem, wayah dalem, dan sentana dalem.

3. Tedhak turun dalem dan abdi dalem.

4. Kawula hangedhep yaitu masyarakat yang berkleblat ke Karaton Surakarta.

Bagi Kerabat Karaton Surakarta tersebut tentu mengenal Radya laksana yang merupakan penanda identitas kerabat karaton.

Radya Laksana dalam bentuk lencana sering dipasang di baju sebelah kiri, menjadi motif batik, sebagai vandel yang dipasang di rumah atau sebagai relief yang dipasang di gapura karaton. Dalam hal yang demikian Radya Laksana di smaping memiliki fungsi sebagai simbol identitas juga sebagai simbol estetika atau keindahan.

2. Makna Filosofis

Radya Laksana memiliki makna filosofis yang berupa ajaran tentang kenegaraan dan kehidupan, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Makutha (mahkota)

Sebagai simbol raja dan sebagai simbol kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, siapa saja yang memakai atau menerima gambar mahkota selayaknya berjiwa budaya Jawa. Dalam arti bahwa jiwa budaya Jawa memberi tuntunan, budaya sebagai uwoh pangolahing budi secara lahir dan batin berdasarkan budi luhur dan keutamaan. Pakarti lahir harus seiring dengan pakarti batin, hal yang demikian mencerminkan adanya sifat keharmonisan dalam budaya Jawa.

b. Warna merah dan kuning

Dalam budaya Jawa merah dan kuning merupakan simbol kasepuhan (yang dianggap tua). Sifat kasepuhan ini terlihat dalam bentuk lahir dan batin, yang mencerminkan sabar, tidak terburu nafsu dan sejenisnya. Hal ini memiliki makna filosofis bahwa seseorag raja harus memiliki jiwa kasepuhan.

c. Warna biru muda

Dasar warna biru muda dan putih. Warna biru dan putih membawa watak menolak perbuatan yang tidak baik. Warna biru muda merupakan simbol angkasa atau langit, merupakan simbol orang yang berwatak luas pandangannya dan juga pemberi maaf.

d. Surya (matahari)

Surya atau matahari merupakan sumber kekuatan dan sumber penerangan dan hidup, yang akan menjadikan dunia tegak penuh dengan sinar penerang dan hidup. Hal ini merupakan simbol bahwa orang yaang berjiwa budaya harus dapat menanamkan kekuatan dan dapat memancarkan sinar kehidupan dengan tidak mengharapkan imbalan. Surya menjadi sarana kehidupan bumi.

e. Candra/sasangka (Bulan)

Bulan merupakan sumber penerangan di malam hari tanpa menimbulkan panas, tetapi teduh, memberi cahaya kepada siapapun dan apapun tanpa kecuali. Hal yang demikian memiliki makna bahwa jiwa budaya harus didasari watak pemberi dan memancarkan penerangan yang tidak menyebabkan silau tetapi memancarkan kelembutan dan kedamaian. Candra menjadi sarana daya rasa (batin) bagi kehidupan di bumi.

f. Kartika (bintang)

Kartika atau bintang memiliki sifat memancarkan sinar, hanya kelihatan gemerlap di sela-sela kegelapan malam. Hal ini memiliki ajaran bahwa raja atau seseorang agar dapat memberikan penerangan kepada siapapun yang sedang dalam kegelapan. Makna itu juga mengingatkan kepada kita bahwa masalh gelap dan terang dalam kehidupan ini silih berganti. Kartika menjadi sarana dan daya menambah teduhnya kehidupan di bumi.

g. Bumi (bumi)

Secara lahiriah bumu merupakan tempat kehidupan dan juga tempat berakhirnya kehidupan. Bumi atau jagad melambangkan bahwa manusia (mikrokosmos) yang memiliki jagad besar ( makrokosmos). Di sini sebagai kiasan atau pasemon adanya kesatuan jagad kecil dan jagad besar. Bumi atau jagading manungsa berada dalam hati. Oleh kerena itu manusia agar dapat menguasai keadaan, harus dapat menaytukan diri dengan dunia besar. Dalam Kejawen disebut Manunggaling Kawula-Gusti. Sifat bumi adalah momot dan kamet; dapat menampung dan menerima yang gumelar (ada). Bumi sebagai lambang welas asih, dapat anyrambahi sakabehe.

h. Paku

Paku sebagai kiasan atau pasemon agar selalu kuat. Hal ini mengandung ajaran bahwa kehidupan di bumi bisa kuat, sentosa harus didasari jiwa yang kuat, tidak mudah goyah, atas dasar satu kekuatan yang maha besar dari Tuhan YME, yang menjadi pegangan bagi manusia yang hidup di bumi

i. Kapas dan padi

Kapas dan padi melambangkan sandang pangan yakni kebutuhan lahir dalam kehidupan manusia. Sandang dinomorsatukan atau didahulukan, sedang pangan donomor duakan atau dikemudiankan. Hal yang demikian mengandung ajaran bahwa sandang berhubungan dengan kesusilaan dan diutamakan, sedangkan pangan berhubungan dengan lahiriah dinomorduakan. Oleh karena itu manusia hendaknya mengutamakan kesusilaan daripada masalah pangan. Kehidupan manusia di bumi tidak dapat lepas dari kebutuhan-kebutuhan duniawi.

j. Pita merah putih

Pita merah putih sebagai kiasan bahwa manusia terjadi dengan perantara ibu-bapak (ibu bumi bapa kuasa). Merah melambangkan ibu, sedangkan putih melambangkan bapak. Oleh karena itu, manusia hendaknya selalau ingat kepada ibu-bapak, yang tercermin dalam ungkapan : mikul dhuwur mendhem jero maksudnya sebagai anak harus dapat mengharumkan nama orangtua dan dapat menghapuskan kejelekan nama orang tua. Juga dapat diartikan laki-laki dan perempuan sebagai lambang persatuan. Untuk mencapai tujuan harus dilandasi semangat persatuan (antara Gusti dan Kawula)
RADYA LAKSANA INTI KEBUDAYAAN KARATON SURAKARTA

Inti kebudayaan Karaton Surakarta berupa gagasan, hasil olah (kerja) pikir dan batin manusia berupa perilaku hidup menyembah kepada tuhan YME dan perilaku hidup sosial budaya (hubungan dengan sesama): Nilai yang terkandung di dalamnya diwariskan pelestariannya dari generasi ke generasi, melalui proses seleksi nilai tersebut menurut lintasan perjalanan sejarah. Sri Radya Laksana adalah wujud dan gambaran inti kebudayaan Karaton Surakarta. Arti harafiahnya adalah perilaku lahir dan batin untuk menjunjung tinggi negara. Unsurnya terdiri dari ratu (raja), putra sentana, abdi dalem (punggawa), kawula (rakyat) fisik bangunan karaton, pemerintahan, wilayah dan kelompok tetua (pendahulu) yang dihormati.

Lambang Karaton Surakarta menggambarkan isi dan makna Sri Radya Laksana – inti kebudayaan karaton. Inti nilai ajaran budaya karaton dapat dipelajari dan dipahami dari sini, karena Budaya Karaton Surakarta merupakan sumber Budaya Jawa yang besar. Deskripsi simbol dan sumber budaya ini secara menyeluruh dan singkat dapat memungkinkan masyarakat pengunjung memahami makna budaya karaton dan orientasi nilai budaya yang dianut dan dikembangkannya.

Wujud Radya Laksana

Radya Laksana berwujud gambar, Relief, atau lencana yang berbentuk bulat telur (oval). Dalam wujud gambar, apabila Radya Laksana dilukiskan dalam bentuk vandel, motif pada kain, atau pakaian, stiker, dan yang sejenis. Dalam wujud relief apabila Radya Laksana menjadi bagian dari suatu gapura, bangunan dan sebagainya. Kemudian Radya Laksana dalam bentuk lencana apabila bagian dalam tata busana menurut adat Karaton Surakarta, yaitu yang dipasang disebelah kiri pada pakaian, misalnya pada pakaian umum, beskap, atelah dan sejenisnya

Dalam gambar, atau relief tersebut terdapat unsur-unsur gambar sebagai berikut :

a. Gambar/relief Makutha ‘mahkota’, yang terdapat pada bagian atas.

b. Warna merah dan kuning. Warna tersebut terdapat pada mahkota, sedangkan kuning terdapat pada warna bulan, bintang, metahari, dan bumi.

c. Warna biru muda

d. Warna biru ini merupakan warna dasar dari bentuk bulat tersebut.

e. Gambar/relief surya (matahari)

f. Gambar/relief sasangka atau candra (bulan)

g. Gambar/relief sudama (bintang)

h. Gambar/relief bumi atu jagad (dunia)

i. Gambar/relief paku (paku) yang menancap pada gambar bumi.

j. Gambar/relief kapas lan pari (kapas dan padi)

k. Gambar/relief pita abang putih (pita merah putih)

3. Makna Konsep Radya Laksana

Radya Laksana merupakan lambang Karaton Surakarta Hadingingrat,lambang tersebut merupakan Yasan atau karya Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana X, berdasarkan relief gambar kuno yang merupakan lambang Kerajaan Jawa kuno yang terdapat di ats Regol atau Kori Sri Manganti.

Istilah Radya Laksana terdiri atas dua kata yaitu Radya dan Laksana. Kedua kata itu di dalam Baoesastra Djawa (1939, hal:515 dan 257) dijelaskan sebagai berikut:

a. Radya (S) KW = Kradjan

b. Laksana I (S) KW : Tjiri, tenger, pratanda, ngalamat.

II KW Kabegjan /lakoe

Terjemahan :

a. Radya (Sansekerta) Kawi : Kerajaan

b. Laksana I (Sansekerta) : 1. Ciri, tanda, pertanda 1. Keberuntungan 2. Jala

Sehubungan dengan makna kedua kata tersebut, maka secara harafiah Radya Laksana berarti : ciri kerajaan, tanda kerajaan, atau jalan kerajaan. Radya Laksana sebagai lambang Karaton Surakarta :; kata Radya dapat berarti negara dalam pengertian Karaton Surakarta, sedangkan Laksana tetap berarti jalan. Oleh karena itu, Radya Laksana dapat diartikan Jalan Negara dalam arti konsep-konsep untuk menjalankan negara yaitu Karaton Surakarta Hadiningrat.

Selain secara harafiah, Radya Laksana memiliki makna sebagai ajaran dan patokan bagi siapapun yang memiliki watak Jiwa Ratu, Jiwa Santana, Jiwa Abdidalem, dan Kawuladalem yang berklebat ke Karaton yang berdasarkan pada Jiwa Budaya Jawa. Radya adalah negara. Yang disebut negara adalah bersatunya Ratu, putra Santana, Abdi dalem, kawula bangunan karaton, pemerintahan, daerah dan Pepundhen (segala sesuatu yang dihormati). Adapun Laksana berarti tindakan. Tindakan yang didasarkan pada Lahir dan Batin. Tindakan dalam bentuk batiniah harus dapat tercermin dalam wujud tindakan lahiriah.

Dipublikasi di Kasunanan, Simbol | Tinggalkan komentar

Prajurit Karaton Surakarta

Keraton merupakan tempat bertemunya barang agal ( kasar ) dan barang halus, barang dapat diraba maupun yang tidak dapat diraba, yang kelihatan oleh mata ataupun yang tidak kelihatan oleh mata.

Menurut kepercayaan orang, keraton dijaga oleh badan-badan halus dari empat penjuru, yaitu :

Dari penjuru timur

Kanjeng Soenan Lawoe.

Soenan Lawoe ( raden Goegoer dari Madjopshit )

Soenan Lawoe Bagoes ( putro Sinoehoen Pakoeboewono Ke-II )

Soenan Lawoe Enem ( muda ), saudara Sinoehoen Pakoeboewono Ke-IX, jadi putro Sinoehoen Pakoeboewono Ke-IV, yang menampakkan dirinys di Langenharjo.

Dari penjuru selatan

Kanjeng Ratu Kidul, yang bernama Kanjeng Ratu Kenconosari, tinggal dikareton Sokodomas bale kencono laut selatan. ( Nyai Roro Kidul adalah sebutan para pengawal )

Kyai Udononggo atau kyai Widononggo yang disebut juga bukan pria bukan wanita, tinggal di Dlepih ( sangat dekat dengan Ki Ageng Senopati dan Ingkang Sinuhun Sultan Agung )

Dari penjuru barat

Kanjeng Ratu Sekar Kedaton ( tinggal digunung merapi )

Kyai Sapu Jagad dan Kyai Sapu Regol

Dari penjuru utara

Kanjeng Ratu Bathari Kalayuwati di hutan Krendowahono ( sering pindah ke keraton Tirtodasar sebelah barat pelabuhan Ratu )

Yang berkuasa di Gunung Kendeng ( nama tidak disebut )

Pangeran Singosari yang tinggal di Alas Roban

Kyai Probojoso di lautan utara.

Dipublikasi di Kasunanan, Prajurit | Tinggalkan komentar

Gamelan Karaton

Jika kita mengunjungi lingkungan Keraton Surakarta, maka kita juga bisa melupakan keberadaan nama gamelan yang memiliki nilai khusus dan hanya dimainkan menurut fungsinya masing-masing.Gamelan memang tidak bisa dilepaskan dari lingkungan Keraton yang merupakan pusat kebudayaan terutama di bidang musik tradisional. Dari beberapa nama gamelan Keraton Surakarta yang ada, salah satunya adalah Kyai Kaduk Manis Renggo. Gamelan ini ditempatkan di teras paningratan dan seperti halnya yang lain, gamelan yang satu ini juga memiliki fungsi tersendiri. BPH Prabuwinoto, kepala Kantor Keparak dan Mondrobudoyo Keraton Surakarta menjelaskan, Kyai Kaduk Manis Renggo tersebut adalah yasan Sri Susuhunan PB IX yang dipakai untuk upacara khusus seperti jumenengan. “ Kyai Kaduk Manis Renggi memeng dibuat dan hanya dibunyikan untuk menyambut tamu-tamu Keraton yang bersifat khusus atau istilahnya tamu agung “
Kyai Kaduk Manis Renggo Yasan Sri Susuhunan PB IX

Namun demikian, Kyai Kaduk Manis Renggo ini tidak hanya menjalankan tugasnya semasa Sri Susuhunan PB IX saja, melainkan sampai sekarang masih terus digunakan untuk menyambut tamu-tamu khusus Keraton seperti yang dilakukan pada masa Sri Susuhunan PB IX. Selain itu gamelan yan satu ini juga diperuntukkan pada saat upacara pentas bedhaya yang biasa digelar pada Rabu dan Sabtu. Dijelaskan pula oleh BPH Prabuwinoto, yang jenis pelog berasal dari Demak Bintoro dan yang Slendro berasal dari Keraton Kartasura, jadi ketika masih Mataram.

Dipublikasi di Kasunanan | Tinggalkan komentar

Pusaka Karaton

PUSAKA

di KaratonSurakarta

Pusaka menurut konsep Karaton Surakarta berbeda dengan konsep di luar Karaton. Menurut Karaton Pusaka berarti peninggalan para leluhur Ratu Jawi Karaton Surakarta yang diturunkan dari Ratu ke Ratu yang memerintah Karaton atau Ingkang Jumeneng Nata. Sedangkan pusaka menurut konsep di luar karaton pusaka diartikan sebagai senjata. Konsep pusaka tersebut termasuk wangkingan (keris), tombak, pedang, wayang, tarian, kereta dan sebagainya. Pusaka yang dianggap peninggalan tersebut memiliki makna historis, memiliki makna magis, sehingga memiliki pengaruh atau prabawa. Pusaka yang memiliki prabawa tinggi dianggap sebagai pepundhen untuk dihormati.

Dalam pembicaraan ini pengertian pusaka karaton dikhususkan pada senjata, seperti keris, tombak, sabet (pedang) dan sejenisnya. Pusaka yang ada di Karaton Surakarta merupakan peninggalan Majapahit – Demak – Pajang – Mataram II – Kartasura – Keraton Surakarta. Pusaka-pusaka tersebut disimpan di kamar pusaka yang berada di Dalam Ageng Prabasuyasa. Pengurusnya diserahkan kepada Abdi dalem wanita. Disamping itu yang berhak membuka kamar pusaka hanyalah Kangjeng Sunuhun sendiri sedangkan abdidalem hanya melayani (ngladeni)

Sebagai bentuk penghormatan pada pusaka Karaton ,aka dapat ditemukan dalam tatacara sebagai berikut :

Pusaka diberi sebutan Kyai, misalnya Kangjeng Kyai Singkir, Kangjeng Kyai Slamet, Kangjeng Kyai Tulak Riwis, Kangjeng Kyai Baro, Kangjeng Kyai Pulageni, Kangjeng Kyai Sanamaya dan sebagainya.

Pada waktu-waktu tertentu pusaka dicaosi dhahar ‘diberi makan’ yang berupa kemenyan dan bunga.

Pusaka diberi sajen pepak ageng atau sajen pepak alit.

Dalam tatacara tertentu yang menggunakan pidato pembicara sering mengucapkan :

Hawit saking berkah pusaka-pusaka dalem ……………..

Karena berkah pusaka-pusaka raja ……………………’

Sehubungan dengan sikap yang menghargai kepada pusaka Karaton (termasuk senjata) seperti tercermin dalam tembang Dhandhanggula berikut ini :

Ugemana pepelinge Gusti,

Yen budaya iku ora beda,

Lan pusaka Kedhatone

Manawa dipun rengkuh,

Dipunpepundhi hambarkahi,

Lamun siniya-siya,

Tuwuh haladipun,

Marma pra setyeng budaya

Pepetrinen uwohing pangolahing budi,

Hing salami-laminya.

Peganglah peringatan Tuhan,

kalau budaya itu tidak berbeda

dengan pusaka Karatonnya

apabila diakui

dihormati memberi berkah

apabila disia-siakan

imbul pengaruh jelaknya

Oleh karena itu, para pecinta budaya

Jagalah hasil pengolahan budi,

Selama-lamanya’.

Pernyataan dalam tembang tersebut mengisyaratkan adanya kewajiban bagi kerabat Karaton untuk menghormati pusaka Karaton. Dengan adanya Kirab Pusaka pada tatacara Murwa warsa juga merupakan bukti adanya bentuk penghormatan kepada pusaka Karaton.

EMPU KERIS

Dua arti dalam istilah empu, pertama dapat berarti sebutan kehormatan misalnya Empu Sedah atau Empu Panuluh. Arti yang kedua adalah ‘Ahli’ dalam pembuatan ‘Keris’.

Dalam kesempatan ini, Empu yang kami bicarakan adalah seseorang yang ahli dalam pembuatan keris. Dengan tercatatatnya berbagai nama ‘keris’ pastilah ada yang membuat.

Pertama-tama yang harus kita ketahui adalah tahapan zaman terlahirnya ‘keris’ itu, kemudian meneliti bahan keris, dan ciri khas sistem pembuatan keris. Ilmu untuk kepentingan itu dinamakan ‘Tangguh’.

Dengan ilmu tangguh itu, kita dapat mengenali nama-nama para Empu dan hasil karyanya yang berupa bilahan-bilahan keris, pedang, tombak, dan lain-lainnya.

Adapun pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut:

1. Kuno

(Budho) tahun 125 M – 1125 M

meliputi kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, medang Kamulan, Tulisan, Gilingwesi, Mamenang, Penggiling Wiraradya, Kahuripan dan Kediri.

2. Madyo Kuno

(Kuno Pertengahan) tahun 1126 M – 1250 M.

Meliputi kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Pajajaran dan Cirebon.

3. Sepuh Tengah

(Tua Pertengahan) tahun 1251 M – 1459 M

Meliputi Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan Blambangan.

4. Tengahan

(Pertengahan) tahun 1460 M – 1613 M

Meliputi Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram

5. Nom

(Muda) tahun 1614 M. Sampai sekarang

Meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta.

Telah kami ketengahkan tahapan-tahapan zaman Kerajaan yang mempunyai hubungan langsung dengan tahapan zaman Perkerisan, dengan demikian pada setiap zaman kerajaan itu terdapat beberapa orang Eyang yang bertugas untuk menciptakan keris.

Keris-keris ciptaan Empu itu setiap zaman mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Sehingga para Pendata benda pusaka itu tidak kebingungan.

Ciri khas terletak pada segi garap dan kwalitas besinya. Kwalitas besi merupakan ciri khas yang paling menonjol, sesuai dengan tingkat sistem pengolahan besi pada zaman itu, juga penggunaan bahan ‘Pamor’ yang mempunyai tahapan-tahapan pula. Bahan pamor yang mula-mula dipergunakan batu ‘meteor atau batu bintang’ yang dihancurkan dengan menumbuknya hingga seperti tepung kemudian kita mengenali titanium semacam besi warnanya keputihan seperti perak, besi titanium dipergunakan pula sebagai bahan pamor.

Titanium mempunyai sifat keras dan tidak dapat berkarat, sehingga baik sekali untuk bahan pamor. Sesuai dengan asalnya di Prambanan maka pamor tersebut dinamakan pamor Prambanan.

Keris dengan pamor Prambanan dapat dipastikan bahwa keris tersebut termasuk bertangguh Nom. Karena diketemukannya bahan pamor Prambanan itu pada jaman Kerajaan Mataram Kartasura (1680-1744). Bila kita telah mengetahui tangguhnya suatu keris maka kita lanjutkan dengan menelusuri Empu-Empu penciptanya.

I. Zaman Tangguh Budho (Kuno) :

1. Zaman Kerajaan Purwacarita, Empunya adalah: Mpu Hyang Ramadi, Mpu Iskadi, Mpu Sugati, Mpu Mayang, dan Mpu Sarpadewa.

2. Zaman Kerajaan Tulis, Empunya adalah: Mpu Sukmahadi.

3. Zaman Kerajaan Medang Kamulan, Empunya adalah: Mpu Bramakedali.

4. Zaman Kerajaan Giling Wesi, Empunya adalah: MpuSaptagati dan Mpu Janggita.

5. Zaman Kerajaan Wirotho, Empunya adalah Mpu Dewayasa I.

6. Zaman Kerajaan Mamenang, Empunya adalah: Mpu Ramayadi.

7. Zaman Kerajaan Pengging Wiraradya, Empunya adalah Mpu Gandawisesa, Mpu wareng dan Mpu Gandawijaya.

8. Zaman Kerajaan Jenggala, Empunya adalah: Mpu Widusarpa dan Mpu Windudibya.

II. Tangguh Madya Kuno (Kuno Pertengahan)

1. Zaman Kerajaan Pajajaran Makukuhan, Empunya adalah: Mpu Srikanekaputra, Mpu Welang, Mpu Cindeamoh, Mpu Handayasangkala, Mpu Dewayani, Mpu Anjani, Mpu Marcu kunda, Mpu Gobang, Mpu Kuwung, Mpu Bayuaji, Mpu Damar jati, Mpuni Sumbro, dan Mpu Anjani.

III. Tangguh Sepuh Tengahan (Tua Pertengahan)

1. Zaman Kerajaan Jenggala, Empunya adalah Mpu Sutapasana.

2. Zaman Kerajaan Kediri, Empunya adalah :

3. Zaman Kerajaan Majapahit, Empunya adalah:

4. Zaman Tuban/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Kuwung, Mpu Salahito, Mpu Patuguluh, Mpu Demangan, Mpu Dewarasajati, dan Mpu Bekeljati.

5. Zaman Madura/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Sriloka, Mpu Kaloka, Mpu Kisa, Mpu Akasa, Mpu Lunglungan dan Mpu Kebolungan.

6. Zaman Blambangan/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Bromokendali, Mpu Luwuk, Mpu Kekep, dam Mpu Pitrang.

IV. Tangguh Tengahan (Pertengahan)

1. Zaman Kerajaan Demak, Empunya adalah: Mpu Joko Supo.

2. Zaman Kerajaan Pajang, Empunya adalah Mpu Omyang, Mpu Loo Bang, Mpu Loo Ning, Mpu Cantoka, dan Japan.

3. Zaman Kerajaan Mataram, Empunya adalah: Mpu Tundung, Mpu Setrobanyu, Mpu Loo Ning, Mpu Tunggulmaya, Mpu Teposono, Mpu Kithing, Mpu Warih Anom dan Mpu Madrim.

V. Tangguh Nom (Muda)

1. Zaman Kerajaan Kartasura, Empunya adalah: Mpu Luyung I, Mpu Kasub, Mpu Luyung II, Mpu Hastronoyo, Mpu Sendang Warih, Mpu Truwongso, Mpu Luluguno, Mpu Brojoguno I, dan Mpu Brojoguno II.

2. Zaman Kerajaan/Kasunanan Surakarta, Empunya : Mpu Brojosentiko, Mpu Mangunmalelo, Mpu R.Ng. Karyosukadgo, Mpu Brojokaryo, Mpu Brojoguno III, Mpu Tirtodongso, Mpu Sutowongso, Mpu Japan I, Mpu Japan II, Mpu Singosijoyo, Mpu Jopomontro, Mpu Joyosukadgo, Mpu Montrowijoyo, Mpu Karyosukadgo I, Mpu Wirosukadgo, Mpu Karyosukadgo II, dan Mpu Karyosukadgo III.

Demikian sekilas uraian tentang Mpu-Mpu dan zaman ke zaman. Keberadaannya sudah tentu menyemarakkan dunia perkerisan selalu sarat dengan karya-karya baru yang terus berkembang dari zaman ke zaman.

Dari keris-keris lurus hingga keris-keris yang ber luk. Ditambah dengan beraneka macam ragam hias pada bilahannya. Semua menuju ke arah maju, tetapi tidak meninggalkan pakem (standar(.

Ragam hias itu berupa kepala hewan yang diletakkan pada gadik misalnya kepala naga, anjing, singabarong, garuda, bahkan puthut. Dengan ditambahkannya bentuk-bentuk itu, sekaligus nama keris itupun berubah, naga siluman, naga kembar, naga sosro, naga temanten, manglar monga, naga tampar, singa barong, nogo kikik, puthut dan lain-lainnya.

Bahkan zaman Kasultanan Mataram sejak masa Pemerintahan Sultan Panembahan Senopati, dunia Perkerisan tampak makmur lagi, lesan mewah tampak pada bilahan keris yang diserasah emas.

Sultan yang arif dan bijaksana itu membagi-bagikan keris sebagai tanda jasa kepada mereka yang berjasa kepada pribadi Sultan maupun kepada Negara dan Bangsa. Tentu saja ragam hiasannya satu dengan lain berbeda walaupun demikian tidak meninggalkan motif aslinya.

Hiasan yan gterasah emas itu terletak pada gonjo atau wadhidhang dengan bentuk bunga anggrek atau lung-lungan dari emas. Atau sebantang lidi yang ditempelkan pada gonjo atau dibawah gonjo terdapat Gajah dan Singa terbuat dari emas juga. Tentu saja penciptanya adalah para pakar perkerisan ialah Empu

Dipublikasi di Kasunanan | Tinggalkan komentar

Arsitektur Keraton

Kraton/karaton (ke-ra-tu-an) menunjukan tempat kediaman ratu (=raja) atau biasa juga disebut kedaton (ke-datu-an) berarti istana/kerajaan. Kraton biasanya merupakan bangunan yang unik dan struktur bangunanya cenderung khusus. Fungsi pokoknya adalah tempat kediaman raja. Karena Raja sebagai (central figure) pemerintahan, maka akhirnya kraton pun menjadi pusat budaya, acuan nilai, adat/aturan, dan sumber ilmu bagi masyarakatnya dan lingkungannya baik secara fisik dan non fisik..

Secara fisik bangunan Kraton Paku Buwono Solo terdiri dari bangunan inti dan lingkungan pendukungnya seperti Gapura (pintu gerbang), alun-alun, masjid , pasar dll.

Nama bangunan nya bermakna/filosofi tertentu yang merupakan gambaran adab/tatanan yang mengandung nilai budi dan budaya tinggi serta melambangkan maksud serta fungsinya.

Misalnya tahapan menghadap raja dimaknakan dalam nama- nama gapura masuk, yaitu: Kori(gapura) mangu, Kori brojonolo, Kori kamadungan dan Kori srimanganti, yang artinya adalah sebelum menghadap raja harus berbekal: kemantapan jiwa (tidak ada keraguan/Mangu) harus tajam pandangan dan pikiranya/Brojonolo serta mawas diri/Kamandungan selanjutnya menanti dengan tertib menghadap raja/Srimanganti (Sri=Raja; menganti=menanti), demikian pula prilaku seperti memberi sembah, ngapurancang, duduk bersila, laku dodok, adalah merupakan adab/etika tertentu yang menggambarkan derajat kesusilaan.

Bahasa yang dipakai adalah bahasa kromo inggil dan kromo andap yang bertingkat menurut pangkat dan tataran yang berlaku, namun kepada raja ada pola bahasa yang baku dan khusus misalnya “sampeyan ndalem” untuk menyebut asma raja yang artinya “Sri Paduka yang Mulia”

“Karaton Surakarta Hadiningrat mono haywa kongsi dinulu wujud wewangunane kewala. Nanging sira nyumurupana, ian handadekna maknane kang sinandi, dimen dadi tuntunaning laku; wajibing urip ing donya tumekeng ndelahan”

Jalan Masuk Alun-Alun
Didepan pintu gerbang I (Gapura Gladag) menuju alun-alun, terdapat dua buah patung raksasa, yang dibuat pada tahun Jawa 1860 atau 1930 masehi. Bahannya dari pasir Pandansimping.

Jalan masuk alun-alun dibagi dua: Gladag di ssebelah utara dan Pamurakan di selatan, yang di kiri-kanan berdiri gapura yang megah dibangun pada Ehe 1860 atau 1930 M, bertepatan dengan ulang tahun ke-64 PAKU BUWANA X (Kamis legi 21 Rejeb Alip 1859 atau 3 Januari 1929). Sebelah utara digunakan untuk kandang rusa dan binatang buas lainnya dan sebelah selatan untuk “memurak” (memotong-motong) daging
Gladag artinya tombak untuk berburu binatang; juga berarti Abdi Dalem Gladag menjalankan tugasnya, dengan menyediakan tenaga dan alat-alat angkut. Sedangkan Pamurakan berarti tempat memotong-motong daging. Pamurakan (pagurakan) juga berarti tempat menyerahkan urak (Urak = surat atau tanda melaksanakan suatu kewajiban
arsitektur2.jpg (16250 bytes)

Siti Hinggil (Lor) adalah bangunan di selatan Pagelaran yang di dalamnya terdapat bangunan kecil yang disebut Maguntur Tangkil. Makna dan fungsinya cukup mendalam dan panjang. Oleh sebab itu ada ungkapan Jawa yang berbunyi : “Sapa nyemak babad, nalar lumajad. Sing nlesih sujarah, ati jumangkah”.

“Sampurno Sangkan Paraning Dumadi -

Wijiling adadi sarining pepadhang, mulih mula-mulanira, honcat dedalan padhang hatingal padhang”. Sebagai bagian dari alur filosofi “Sangkan Paraning Dumadi” dari utara ke selatan, maka posisi Kori Mangu adalah posisi kadya rikma pinarasasra atau ibarat titian selembut rambut dibelah tujuh.

Turun dari Siti Hinggil, lewat Kori Mangu sebelum menyebrang ke Kori Brajanala, maka akan melewati Kori Renteng yang bermakna agar dalam proses menghadap Paraning Dumadi, harus merelakan berbagai beban komplikasi keinginan duniawi dan pribadi, untuk kesejahteraan sosial.

Kori Brajanala bermakna agar ketika mulai masuk ke dalam Keraton dalem yang dalam Site-plan-nya bermakna telah memasuki nara sumber alam keTuhanan, maka Sang Musafir Panembah (Komunitas kawula alit) harus legawa untuk menanggalkan segala ‘arogansi drajad martabat semat’ serta harus beritikad jernih, bersih dan sakral dengan mempertajam rasa, budi luhur, tatakrama, daya tanggap, dalam intuisi Panembah. (Brojo=Tajam; Nala=Rasa)

Di bagian dan dalam bangunan Kori Brajanala terdapat Stage-space yang disebut Bangsal Wisamarta, yang berarti penawar bisa/racun. Maknanya adalah kekuatan penetralisir Keraton dari berbagai kekuatan-kekuatan destruktif dari luar.

Melewati Site-Entrance Pelataran Kamandungan dan kemudian menapak pada Site Balarata menuju Main-Entrance Kamandhungan, memberikan makna bahwa laku batin sudah sampai pada bagian dalam prosesi Panembah (Andhung). Ungkapan Mulat Sarira Hangrasa Wani, yang berarti harus tanggap diri atau self corection apakah kita sudah pantas, bersih, rapi bertatakrama dalam ‘berbusana’ (agama ageming aji) untuk menghadap Sang Pencipta.

Turun dari space Kamandhungan di sebelah barat terdapat Bangsal Smarakata. Proses pembudayaan naluri libido asmaragama menjadi bentuk kultural yang lebih steril dari nafsu hewani sehingga lebih bermuatan saresmi yang bersifat sakral lantaran senggama adalah mekanisme natural fisikal yang sesungguhnya berbarengan dengan implementasi nukad ghoib sangkan paran muasal ‘terproduksinya’ sebuah kelahiran manusia.

Oleh sebab itu Site Smarakata sampai kini masih tetap konsisten dipergunakan bagi suatu aktivitas yang bersifat seni budaya, yakni suatu bagian kulturalisasi dan sakralisasi pengungkapan naluri libido asmaragama, dengan titik berat penghargaan dan panembah kepada Tuhan Hyang Maha Wikan.

Hubungan antar umat maupun hubungan Kawula-Gusti perlu di-aransemen dalam kaidah-kaidah adat istiadat yang menghargai nilai-nilai adiluhung.

Diseberang timur di depan Smarakata terdapat sebuah bangsal yang cukup berwibawa yang disebut Bangsal Marcukundha. Nama Marcukundha yang meminjam dari Istana Bethara Guru dalam babad pewayangan ini dimaknakan sebagai tempat peradilan bagi para sentana dan elite politik lainnya yang ketika itu masih memiliki jalur keturunan raja. Kesakralan pengadilan dan keadilan disini sangat diutamakan, lantaran pengakuan naluri kejawen bahwa letak keadilan yang sesungguhnya adalah di tangan Tuhan. Oleh sebab itu raja atau aparat pengadilan Keraton bukan hanya bertumpu pada kitab angger-angger pidana saja.

Arsitektur Keraton yang mempunyai ciri keselarasan akulturatif arsitektur kolonial dengan arsitektur tradisional Jawa sesungguhnya cukup ‘radikal’ dalam mengaransir komposisi ornamen yang cukup spesifik sebagaimana yang terpasang di atas Kori Sri Manganti. Sebuah ornamen tiga dimensi dengan kualitas pembuatan yang sangat halus serta finishing yang ‘fabricated’ serta material yang relatif tak lekang oleh waktu, disusun secara simetris menggambarkan komposisi kewibawaan, keagungan dan kekuatan pertahanan negeri yang disebut sebagai Lambang Kerajaan Jawa yaitu SRI MAKUTHA RAJA. Teknik pembuatan seni kriya yang mungkin mirip model seni kriya karya perupa masa kini Sapto Hudoyo yang disebut kolase ini, digarap secara sangat profesional dan canggih. Cara pembuatan Sri Makutha Raja ini mengkomposisikan benda-benda seni yang masing-masing telah digarap sebagai benda seni yang selesai, setelah digabung baru kemudian diawetkan dengan teknologi pengawetan tertentu.

Tampak utara wewangunan Kori Sri Manganti dibuat semacam frame sebagai penegasan garis berbentuk pilar yang menempel di tembok dan diberi hiasan stilirisasi semacam hexografismistis, yang mungkin sudah dirubah lebih streamline versi ornamennya pada jaman S.I.S.K.S. Pakoe Boewono IV sekitar tahun 1718 Jawa (1772

Masehi). Disamping kiri-kanan Kori terdapat simbol Radya Laksana versi lama. Yang menonjol adalah ekspose lambang kapas dan padi sebagai lambang sandang dan pangan atau kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Dari depan tampak empat tiang atap Joglo Semar Tinandhu yang menaungi Kori Sri Manganti. Bentuk epitel atau mahkota pilar yang sangat ornamentik juga sudah berubah dibanding dari hiasan awalnya yang agak complicated. Listplank juga berubah lebih ornamentis. Space depan kori Sri Manganti mempunyai point-entrance di sebelah baratnya yang digunakan sebagai ruang tunggu. Sedang di sebelah timur terdapat ruang Pacaosan Penemu, Mantri, dan bawahannya dari golongan keparak, serta Bupati yang bertugas sebagai Tindhih.

Space yang cukup luas di depan Kori Sri Manganti digunakan Sri Susuhunan untuk menunggu dan menyambut Tamu Agung yang berkunjung ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

“Memasuki Kori, di dalamnya masih terdapat space yang tersekat di sebelah selatan sehingga membentuk traffical space ke arah timur. Di tembok penyekat terpampang sebuah cermin besar yang bermakna untuk meingatkan kembali kepantasan diri kita baik dari segi lahir maupun batin. Jika kita berdiri di ujung space dalam Kori Sri Manganti menghadap ke selatan, akan tampak suatu hamparan halaman pasir luas yang secara teratur ditanami pohon sawo kecik. Secara jarwa dhosok, nama pohon itu dimaknakan sebagai lambang yang artinya sarwo becik atau serba baik. Di sebelah timurnya berjarak sekitar 10 m terdapat bangunan bersegi delapan yang menjulang tinggi sangat kondang, dengan model atap ‘tutup saji’, yang disebut Panggung Sangga Buwana

Sebelah timur Pamurakan di Pakapalan angka 3 (pakapalan kapatihan) adalah balai agung yang mempunyai tugas seperti badan penasihat.

2. Alun-Alun Utara
Alun-alun utara adalah suatu tanah lapang yang luas lapang yang luas di mana dilangsungkan bermacam-macam keramaian, latihan berperang, olah raga, dsb. Dulu fungsinya bermacam-macam: latihan perang dengan naik kuda dan bertombak setiap hari sabtu (watangan) diiringi gamelan (patalon, talu=mulai) atau “Gamelan Setu”, untuk upacara Maleman (21 Puasa) dan Gerebeg 1 Syawal, 10 Dulhijah, dan 12 Maulud. Di samping itu, alun-alun juga dipergunakan untuk “rampongan” harimau sebagai latihan kemahiran mempergunakan tombak. Juga untuk mengadili orang yang salah menurut pengadilan Pradata (negeri). Setelah hukuman mati dijatuhkan, tubuhnya dibiarkan di sebelah utara Ringin kurung agar diketahui umum sebagai pelajarannya.

Beberapa bangunan di sekitar alun-alun utar

a.Sebelah barat, utara, dan timur terdapat beberapa rumah yang disebut Pakapalan (Kapal = kuda, pakapalan = tempat kuda). Tempat itu digunakan untuk menambatkan kuda-kuda para Abdi Dalem dari berbagai daerah yang akan menghadap Raja di hari Raya. Bila raja mengadakan perayaan istimewa, di situ dilangsungkan perayaan sendiri-sendiri yang disebut “pakajang”.

b. Di sebelah tenggara, terdapat bangsal patalon, tempat Gamelan Sabtu dibunyikan dalam latihan keprajuritan (watangan).

c. Di tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin putih (waringin kurung). Sebelah barat bernama Dewandaru (keluhuran), sebelah timur bernama Jayandaru (kemenangan). Beringin ini dibawa dari alun-alun Kartasura. Di sinilah tempat “pepe” (hak petisi) bagi seseorang/rakyat yang tidak puas terhadap raja. Dengan berpakaian serba putih ia duduk di bawah pohon beringin kurung.

d. Sebelah barat alun-alun adalah Masjid Agung. Di podium masjid terdapat tulisan “rukuning Islam iku limang prakara”, di sebelahnya lagi ada ukiran kayu dengan kaligrafi yang dibuat pada jaman PAKU BUWANA III (tahun Wawu 1869). Kemudian ada menara masjid (33 meter), dibuat oleh PAKU BUWANA X saat ultah ke-40. Jadi Masjid Agung ( saka guru ) dibuat jaman PAKU BUWANA III tahun 1869 atau “ Trusing sarira winayang ratu “ atau 1177 H (hangraras temen pangandikaning Nabi) atau 1204 H ( dadi luhur menembah ing Allah ). Dahulu masjid ini diurusi Kawedanan Yogaswara. Dalam acara Sekaten ( Muludan ) dibunyikan, di bangsal selatan bernama Kyai Gunturmadu, dibuat PAKU BUWANA IV tahun 1718 ( Naga Raja Nitih Tunggal ). Dibangsal sebelah utara bernama Kyai Guntursari, dibuat zaman Mataram tahun 1566 ( Rerenggan wowohan tinata ing wadah ). Rambu atau gending permulaan dalam sekaten dengan gending Rangkung.

e. Memba’ul ‘Ulum terletak di selatan masjid, dibangun Paku Buwana X.,diperintahkan patih KRA Sasradiningrat IV agar Abdi Dalem Yogaswara (mutihan) diberi kursus agama Islam agar dapat mengajar kepada rakyat. Sekolah itu didirikan pada 20 Jumadilawal Alip 1833 (1950 M). Kepala sekolah yang pertama adalah Kyai Bagus Arfah, seorang ulama besar. Saat itu menggunakan ruang pawestren Masjid sebelah utara dan selatan untuk ruang kelas. Tahun 1915

PAKU BUWANA X mendirikan gedung di halaman masjid. Pelajarannya meniru seperti pesatren tetapi dengan cara klasikal.

f. Sebelah selatan alun-alun terdapat 3 pucuk meriam, dari barat ke timur: Kyai Pancawara, K. Swuhbrasta, Kyai Sagarawana. Sekarang dipindah di sebelah timur Sasana Sumewa dan kanan-kiri jalan masuk Sitihinggil. Barat Sasana Sumewa ada meriam Kyai Santri. Meriam bukan alat perang tetapi tanda kerajaan, yaitu menandai peristiwa penting: menghormati tamu agung, kelahiran putra-putri PAKU BUWANA dari permaisuri, dan tiap pesowanan agung.

g. Sebelah Utara alun-alun terdapat 2 pohon beringin yang di sebelah barat bernama jenggot = laki-laki, timur bernama wok = perempuan.

h. Sebelah selatan alun-alun berdiri pohon waringin Gung = besar/tinggi dan waringin Binatur = rendah/hina. Disebelah baratnya berdiri tugu peringatan 200 tahun Karaton Surakarta (dibuka 1939).

i. Di tengah tempat meriam yang masing-masing kosong, ada bangsal Pamandangan, tempat kuda yang siap dinaiki oleh Sunan atau putranya pada saat upacara besar.

j. Bagian barat dan timur dulu berdiri bangsal Paretan, tempat menyediakan kereta kebesaran (kencana) untuk Sunan dan Putranya pada upacara besar.

k. Di barat daya da timur laut berdiri pintu gerbang Slompretan dan Batangan, dibuka pada hari Rabu Pahing Sura Je 1870 (8 Maret 1939)

3. Sasana Sumewa
Di tepi jalan sebelah selatan alun-alun terdapat bangsal besar yang menghadap ke utara, bernama Sasana Sumewa ( sasana = tempat, sumewa = menghadap/sowan ) Bangsal ini dibangun pada tahun jawa 1843 ( 1913 ) dan selesai pada hari Kamis 9 Mulud Ehe 1844. Semula lantainya masih tanah/pasir dan atapnya dari bambu. Maka dinamakan “tratag”. Dahulu tempat itu namanya Pagelaran (gelar = benteng, Pagelaran berarti tempat membentangkan kehendak Sunan tentang berbagai hal di kerajaan)

Di tengah-tengah ada sebuah bangsal kecil bernama Bangsal Pangrawit (pindahan dari Kartasura). Tempat itu digunakan untuk duduk/berdiri Sunan untuk menyampaikan pesan atau perintah kepadabawahannya atau pelantikan pejabat. (Ngrawit = asri, indah permai; Pangrawit berarti mempermaikan, memperindah)

Bangsal Pacekotan di kanan Sasana Sumewa adalah tempat menghadap orang yang akan menerima anugerah dari Sunan; Tiap hari tepat iniuntuk peristirahatan Abdi Dalem prajurit keamanan. Bangsal Pacikeran di kiri Sasana Sumewa adalah tempat orang yang akan dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Di timur undak-undakan ke Sitihinggil dulu ada bangsal Mertalulut, tempat Abdi Dalem mertolulut membawa hadiah kepada mereka yang berjasa. Sekarang ditampati Abdi Dalem Meriam Kyai Pancawara. Di barat undak-undakan adalah bangsal Singanegara, tempat Abdi Dalem Singanegara melaksanakan putusan pengadilan. Sekarang ditempati meriam Kyai segarawana.

4. Sitihinggil Utara
Di selatan Sasana Sumewa terdapat sebidang tanah tinggi dengan pagar batu dan terali besi, dinamakan Sitihingil, dibangun pada tahun Alip 1691 (Siti = tanah, inggil = tinggi). Utara dengan pintu besi diberi nama Kori Wijil (pintu ke III), dimana berada 8 pucuk meriam, yaitu dari barat ke timur namanya: Kyai Brising, Kyai Bagus, Kyai Nakula, Kyai Kumbarawa, Kyai Kumbarawi, Kyai Sadewa, Kyai Alus, dan Kyai Kadhalbutung/Mahesa Kumali/Pamecut.

Di depan Kori Wijil terdapat batu Pamecat untuk memenggal leher mereka yang dihukum mati.

Di tengah Sitihinggil ada bangsal yang nama-namanya urut dari sebelah ke utara adalah:

a. Bangsal Witana, di dalamnya ada balai Manguneng tempat bersemayam meriam Nyai Setomi. Manguneng (mengun-neng) artinya menggerakkan (in beweging brengen). Nyai Setomi yang berada di dalamnya selain memberi selamat juga dapat menggerakkan jiwa dalam suasana kegembiraan dan kemeriahan dengan penuh kesopanan seperti tiap hari Grebeg. “Grebeg” berarti galau, artinya di hari itu Sunan keluar dari Karaton ke Sitihinggil digalau oleh putra-putra dan pejabat lainnya.

b. Bangsal Mangunturtangkil (berada di dalam bangsal Sewayana), tempat duduk Sunan pada hari Grebeg Mulud 12 Rabiulawal, Grebeg Puasa 1 Syawal, dan Grebeg Besar 10 besar. Manguntur = Sitihinggil/panunggal, tangkil=luhur/mulia. Mangunturtangkil berarti bangsal di Sitihinggil yang mulia atau panunggul, (kahinggahaken) pada hari Senin tanggal 24 Besar Alip 1835. Sedangkan Sewayana, tempat duduk para Putra Senata dan Abdi Dalem berpangkat tinggi, yang menghadap pada hari Grebeg tersebut. Sewa = menghadap, yana = orang. Jadi tempat orang menghadap. Lantainyaa ditinggikan pada Senin 24 Besar Alip 1835.

Adapun bangsal di tepi sebelah timur, dari selatan adalah:

a. Bangsal Angun-angun, tempat ii biasanya untuk pacaosan Abdi Dalem Sarageni Kiwa-tengen.

b. Sebelah utaranya adalah bangsal Gandhek Tengen, tepat memukul gamelan Kodhok Ngorek; hari-hari biasa tempat ini untuk pacaosan Abdi Dalem Gandhek Tengen.

c. Di tepi barat sebelah selatan berdiri bale Bang, untuk menyimpan gamelan tersebut

d. Sebelah utaranya bernama Gandhek Kiwa, tempat menyiapkan pesta; tiap hari untuk pacaosan Abdi Dalem Gandhek Kiwa.

Pintu Sitihinggil yang ke selatan bernama Kori Renteng/Mangu (pintu ke-IV) (renteng = pertentangan dalam hati, mangu = ragu-ragu). Sitihinggil dan Sasana Sumewa dikelilingi jalan yang bernama supit urang.

5. Daerah Dalem Baluwarti Karaton Surakarta

Baluwarti yang berarti benteng, adalah pagar batu yang kuat dan tinggi yang mengelilingi Karaton. Semula tebal bentang itu sekitar 2 meter, namun setelah rusak diganti pagar bata biasa setinggi 5 M seperti sekarang.

Untuk masuk Baluwarti dibuat empat pintu:

a. Di sebelah utara bernama Kori Brajanala Utara (pintu ke-V) (braja=senjata tajam, nala=hati). Di atas pintu diberi sengkalan memet berupa kulit sapi persegi: “Lulang sapi siji = wolu ilang sapi siji” (1708 atau 1782 M), yaitu jaman Paku Buwana III. Di luar pintu ada dua bangsal Pacaosan Abdi Dalem Brajanala Kiwa dan Tengen. Di dalam pintu ada dua bangsal pacaosan Abdi Dalem Wisamarta Kiwa dan Tengen.

b. Di sebelah selatan juga ada pintu gerbang bernama Kori Brajanala Selatan, dengan bangsal untuk Abdi Dalem Nyutra dan Mangunudara

c. Di sebelah timur dan barat masing-masing diberi nama Kori Batulan Wetan dan Kori Butulan-Kulon, didirikan pada hari Senin 30 Rejeb Jimawal 1837 dan Kamis 24 Sapar Ehe 1836.

6. Dhatulaya Karaton Surakarta (Inti Karaton)

Cepuri atau halaman Karaton dikelilingi pagar batu agak tinggi. Untuk masuk ke dalam Cepuri Kadhaton harus melewati 2 buah pintu utara dan selatan serta butulan.

Sebelah utara: Kori kamandungan, dibangunpada hari sabtu 21 Besar Jimakir 1746 atau 16 Oktober 1819. Ruang tanah antara Kori Brajanala dan Kori Kamandungan disebut “kamandhungan”, tempat prajurit beristirahat tanpa senjata. Sebelah timur ada tempat penjagaan prajurit Karataon, sebelah barat tempat penjagaan tentara Belanda (KNIL).

Dari Kori Kamandungan lalu masuk Kori Sri Manganti Utara (tempat menunggu raja keluar istana) didirikan pada tahun Je 1718 atau 1742 M. Di beranda luar ada pusat penjagaan Abdi Dalem Keparak, di dalam Kori tempat pacaosan Nyai Regol, lalu masuk halaman karaton. Antara Sri Manganti dan Kamandungan ada halaman dan di sebelah barat ada bangsal Smarakarta dan sebelah timur bangsal marcukunda yang dibangun pada 13 Rabiungalakir Jimawal 1761 (4 April 1814). Kedua bangsal itu digunakan sebagai tempat pesowanan para Abdi Dalem Sipil dan prajurit yang akan masuk kedaton menghadap Sunan.

Di sebelah selatan terdapat Kori Pamagangan (Korti Saraseja), terletak di sebelah utara Kori Brajanala Selatan. Lalu masuk pintu Gadungmlati dan Kori Sri Manganti Selatan. Diantara kedua bangunan/kori ini adalah Magangan. Di tengah-tengahnya ada bangsal untuk pisowanan Abdi Dalem wanita (keputren). Bagian luar Sri Manganti Selatan terdapat pacaosan Keparak, dalam pintu sebelah barat adalah pengjagaan Nyai Regol, dan di tepi pelataran Magangan adalah gedong prajurit Karaton. Setelah Sri Manganti adalah masuk Dalem Ageng (Datulaya) bernama Prabasuyasa, menghadap ke selatan. Sedangkan pendapanya bernama Sasana Sewaka di sebelah timur menghadap ke timur. Prabasuyasa artinya rumah yang bercahaya (praba = cahaya/sinar, suyasa = rumah). Bila ada perayaan, yang menghadap di situ haya para putri dan wanita di lingkungan Karaton. Sedangkan Sasana Sewaka artinya tempat menghadap (sasana = tempat, sewaka = menghadap) para putera raja dan Abdi Dalem yang berpangkat tinggi. Dahulu Sunan berkenan duduk sewaka di tempat itu setiap hari senin dan kamis. Duduk sewaka artinya duduk mengheningkan cipta (semedi). Di tengah Prabasuyasa dan Sunan duduk melihat pertunjukan wayang kulit. Oleh Paku Buwana X tempat ini untuk kantor pribadi dan menerima tamu tidak resmi. Sebelah selatan Sasana Sewaka adalah Sasana Handrawina, tempat makan para kerabat Karaton dan tamu.

Selain itu, masih terdapat beberapa bangunan yang berada di Cepuri Palataran, yaitu:

a.Ruang yang mengelilingi Sasana Sewaka disebut Paningrat, berarti selasar (emper), didirikan pada Jumat Pon 17 Rejeb Wawu 1809 (25 Juni 1880 M)

b Ruang muka sebelah timur Paningrat dinamakan Maligi, tempat mengkhitan putera Sunan dari permaisuri. Didirikan pada Jumat 19 Rabi’ulakir 1811 (10 maret 1882)

c. Sebelah selatan Sasana Sewaka terdapat dua rangkaian gamelan: Kyai Kadukmanis dan Manisrengga. Dibunyikan tiap keperluan dan hari Senin, Rabu, Kamis, Sabtu, untuk latihan.

d. Sebelah timur halaman ada 3 bangsal, dari utara ke selatan: (1) Bangsal Bujana (tempat menjamu pengikut tamu agung), (2) Bangsal Pradonggo, tempat memukul gamelan, (3) Bangsal Musik, untuk musik atau orkes.

e. Gedung sebelah selatan Parasedya adalah kantor Sunan, bernama Sasanaprabu.

f. Gedung-gedung di halaman sebelah utara dan selatan adalah kantor pemerintah Karaton. Sebelah timur palataran Karaton ada gedung Museum.

g. Sebelah utara pelataran terdapat menara besar dan tingginya 35 M garis tengah 6 M, dan bertingkat. Menara itu bernama Panggung Sanggabuawana (1709) J atau 1782 M). Di puncaknya terdapat sengkalan memet: “Naga muluk tinitihan janma” (1709). Fungsinya untuk Semedi, sesaji di tingkat atas, untuk menetapkan tanggal bulan Jawa dengan melihat bulan, dan untuk melihat tamu atau musuh dari jauh. Panggung ini pernah terbakar pada 19 Nopember 1954 dan dipugar selesai tanggal 15 Mei 1978.

h. Kori Wiwaraprya, terletak di sebelah utara menghadap ke timur.

i. Kori Wiwarakenya, di sebelah selatan menghadap ke timur.

7. Bangunan Sebelah Selatan Kori Brajanala Selatan

Di sebelah kiri-kanan Kori terdapat bangsal Nyutra dan bangsal Mangundara. Di sebelah selatan Kori Brajanala Selatan terdapat :

a. Sitihinggil selatan, didirikan 2 Rabiulakir Wawu 1721, dan dahulu ada 4 meriam, 2 diantaranya diambil ke AMN Magelang.
b. Di luar Sitihinggil bagian barat dan timur adalah Lumbung Silayur.
c. Selatan Sitihinggil adalah alun-alun Selatan dan terdapat waringin kurung sakembaran. Alun-alun ini fungsinya untuk latihan keprajuritan.
d. Sebelah barat alun-alun adalah kandang gajah. Untuk lambang kebesaran raja, ia memelihara binatang-binatang buas. Dahulu ditempatkan di pintu-pintu gerbang dan sejak 1913 M dipindahkan ke Sriwedari.
e. Pintu gerbang alun-alun selatan bernama Gapurendra, dibangun pada Rabu 23 Rabiulakir Jimawal 1869 atau 23 Juni 1939.
f. Sekitar 150 M sebelah Timur Gapura Gading adalah kandang mahesa (kerbau).

A. Karaton Surakarta Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya

Sebuah peninggalan bersejarah tidak secara otomatis menjadi daya tarik bagi orang/masyarakat lain. Oleh sebab itu, agar menjadi sebuah daya tarik harus disampaikan, diperkenalkan, dimasyarakatkan, dipromosikan kepada semua pihak, khususnya orang/masyarakat di manca negara lebih-lebih masyarakat Indonesia yang merasa ikut memeilikinya.

Warisan budaya Karaton Surakarta kaya akan makna dan ajaran hidup dan kehidupan bagi manusia. Oleh sebeb itu warisan budaya Karataon bisa merupakan salah satu alternatif bagi orientasi perjalan hidup manusia.

Nilai instriksik dari warisan budaya Karaton Surakarta merupakan salah satu kekayaan dan memeberikan ciri khusus bagi masyarakat Jawa (paling tidak masyarakat Surakarta dan sekitarnya). Sehingga penggalian unsur-unsur yang membentuknya merupakan usaha kearah pengkajian segi positif dan yang memiliki daya manfaat bagi upaya mencari jati diri masyarakat yang mendukung, merasakan kehadirannya setelah mendalami isi, jiwa dan semangat dari ajaran yang tersirat dan tersurat.

Proses menemukan likasi Karaton Surakarta telah mengajarkan kepada semua orang bahwa kebahagiaan di dalam hidup ini tidak bisa diperoleh dengan berpangku tangan, tetapi harus diperjuangkan dengan semangat, jiwa raga yang tangguh, ulet dan tekun. Dan kebahagiaaan hidup manusia harus mencerminkan dimensi kehidupan baik duniawi maupun surgawi atau akherat.

Jiwa dan semangat pemindahan Pusat Karaton dari Kartasura ke Surakarta adalah kesadaran dan pemahaman secara mendalam akan kelemahan dan kekurangan dari penguasa dan kerabat pada masanya. Sehingga situasi itu melahirkan keputusan dan tekad untuk membangun hidup baru dan semangat baru di tempat baru yang diusahakan dengan modal spirit, keyakinan, harta benda serta didukung oleh kesatuan dan persatuan antara penguasa dan rakyat.

Prosesi ritual pemindahan Karaton dari Kartasura ke Surakarta adalah wujud fisik dari semangat tersebut. Rasa hormat dan memiliki atas harta, pusaka warisan budaya Karaton dari generasi pendahulu diwujudkan dalam peristiwa tersebut.

Peristiwa tersebut menjadi sangat manarik jika dikemas dan disajikan sebagai atraksi wisata budaya, baik bagi masyarakat pengunjung Nusantara maupun mancanegara. Penyelenggara harus siap dengan skenario yang benar dan asli menurut sumber dokumen yang terpercaya. Laporan ini juga menyajikan deskripsi data dan informasi tentang peristiwa tersebut. Pelaku, berbagai macam perangkat ritual, alat transportasi, busana, rute prosesi yang dilalui dari Kartasura ke Surakarta ; semuanya harus diatur dipersiapkan secara lengkap dan dapat dilaksanakan. Pemandu wisata dalam berbagai bahasa harus dipersiapkan untuk benar-benar menguasai profesi dan substansinya sehingga mudah dimengerti karena jelas disampaikan padapengunjung yang berprtisipasi dalam peristiwa tersebut.

Sinarning Resi Rasa Tunggal 1670, hari Rabu Pahing Jam 10.00 pagi, tanggal 14 bulan Sura Tahun Je, Wuku Landhep, Masa Kawolu, Windu Sancaya (Tahun Jawa) atau tanggal 17 Februari 1745; jadilah pusat Karaton Surakarta dipindahkan dari Kartasura ke Surakarta. Bumi baru, harapan baru, semangat baru dan kehidupan baru telah dimulai lagi oleh generasi penerus Dinasti Mataram di bawah pemerintahan Paku Buwana II di Surakarta Hadiningrat (Bratadiningrat, 1978).
RADYA LAKSANA INTI KEBUDAYAAN KARATON SURAKARTA

Inti kebudayaan Karaton Surakarta berupa gagasan, hasil olah (kerja) pikir dan batin manusia berupa perilaku hidup menyembah kepada tuhan YME dan perilaku hidup sosial budaya (hubungan dengan sesama): Nilai yang terkandung di dalamnya diwariskan pelestariannya dari generasi ke generasi, melalui proses seleksi nilai tersebut menurut lintasan perjalanan sejarah. Sri Radya Laksana adalah wujud dan gambaran inti kebudayaan Karaton Surakarta. Arti harafiahnya adalah perilaku lahir dan batin untuk menjunjung tinggi negara. Unsurnya terdiri dari ratu (raja), putra sentana, abdi dalem (punggawa), kawula (rakyat) fisik bangunan karaton, pemerintahan, wilayah dan kelompok tetua (pendahulu) yang dihormati.

Lambang Karaton Surakarta menggambarkan isi dan makna Sri Radya Laksana – inti kebudayaan karaton. Inti nilai ajaran budaya karaton dapat dipelajari dan dipahami dari sini, karena Budaya Karaton Surakarta merupakan sumber Budaya Jawa yang besar. Deskripsi simbol dan sumber budaya ini secara menyeluruh dan singkat dapat memungkinkan masyarakat pengunjung memahami makna budaya karaton dan orientasi nilai budaya yang dianut dan dikembangkannya.

Dalam Bab V ini akan dibicarakan 2 hal yaitu (1) wujud dan makna konsep Radya Laksana, (2) simbol dan filosofi Radya Laksana.

Dipublikasi di Kasunanan | Tinggalkan komentar

Kehidupan Dalam Karaton

Khusus istilah Karaton di solo yang merupakan tempat kediaman ratu/raja, mememiliki beberapa arti. Pertama berarti kerajaan atau negara, kedua berarti pekarangan raja yang meliputi wilayah di dalam tembok yang mengelilingi halaman Baluwerti, ketiga pekarangan termasuk alun-alun. Karaton, merupakan bangunan yang unik karena ukurannya yang paling luas dibanding bangunan lainnya di lingkungan Karaton. Bangunannya bersifat khusus, monopoli raja. Maka dari itu misalnya, penguasa Kadipaten tidak diperkenankan duduk di dhampar (tempat duduk berbentuk segi empat tanpa sandaran dan tanganan serta khusus untuk raja pada waktu pertemuan-pertemuan resmi), tidak diizinkan memiliki alun-alun, Bale Witana, di samping tidak berhak memutuskan hukuman mati. Maka, alun-alun dan Sitihinggil hanyalah untuk nama-nama yang berhubungan dengan bangunan yang dimiliki Karaton.

Paku Buwana adalah yang mendirikan Karaton Surakarta di tahun 1746, untuk mengganti Karaton Kartosura yang telah hancur karena serangan musuh, yang semula adalah pusat kerajaan Mataram. Setelah mendiami Karaton Surakarta selama 3 (tiga) tahun, ia wafat (1749) dan penggantinya memerintah sebagai raja Mataram sampai tahun 1755. Karaton Surakarta pernah berkedudukan sebagai pusat kerajaan Mataram selama 9 (sembilan) tahun, sebab kehadiran residen yang menetap di Surakarta sejak tahun 1755 membawa perkembangan baru pada istana yang bersifat tradisional.

Mulailah bermunculan gedung-gedung baru gaya barat, namun nama perkampungan seperti Pasar Legi, Pasar Kliwon dan Pasar Pon merupakan petunjuk bahwa kota istana itu pernah terdapat pasar-pasar yang dibuka di waktu-waktu tertentu (hari pasaran : Legi, Paing, Pon, Wage, Kliwon). Pasar itu selain menawarkan barang-barang yang diperlukan istana, sebaliknya juga merupakan sumber pendapatan yang sangat penting bagi penduduk di daerah asal barang-barang itu.

Dari periode antara tahun 1830-1939, Surakarta diperintah oleh 4 (empat) raja. Pertama, Paku Buwana VII (1830-1858) mengganti keponakannya, Paku Buwana VI (1823-1830) yang seusai perang Diponagara diasingkan oleh pemerintah kolonial ke P. Ambon. Kedua, Paku Buwana VIII (1858-1861) menggantikan adiknya berlainan ibu. Kedua raja ini adalah putra Paku Buwana IV; yang disebut pertama lahir dari permaisuri, sedangkan satunya adalah putra tertua yang lahir dari selir. Ketiga, Paku Buwana IX (1861-1893), putra Paku Buwana VI, dan ke-empat Paku Buwana X (1893-1939), putra Paku Buwana IX.

Karaton memiliki kebudayaan tersendiri. Berbagai macam lambang diketemukan dalam segala kehidupan, antara lain : bentuk dan cara mengatur bangunan, mengatur penanaman pohon yang dianggap keramat, mengatur tempat duduk, menyimpan dan memelihara pusaka, macam pakaian yang dikenakan dan cara mengenakannya, bahasa yang harus dipakai, tingkah laku, pemilihan warna. Di samping itu Karaton juga melestarikan folklor dan mitos-mitos.

Ratu Kidul adalah salah satu mitos yang sangat berpengaruh bagi kehidupan komunitas Karaton dan kehidupan rakyat. Sebagai contoh, orang tidak akan pernah mengerti makna tari pusaka Bedhaya Ketawang yang sejak Paku Buwana X naik tahta tarian ini setiap tahun dipergelarkan, tanpa mengenal mitos ratu Kidul. Makna panggung Sanggabuwana akan sulit dipahami termasuk tahayul lampor (suara gaduh yang terbayang terdapat diangkasa, suatu kendaraan Ratu Kidul yang diiringkan oleh roh-roh halus menuju ke utara, gunung Merapi). Mitos lain yang akrab dengan Karaton antara lain Ramayana dan Mahabharata yang ritualitasnya dapat dilihat pada pertunjukan wayang kulit, mitos Dewi Sri yaitu dewi padi atau dewi kesuburan. Komunitas Karaton tersusun secara hirarki, dengan raja di puncaknya, lalu para bangsawan, para abdi dalem, para pengiring dan para kawulo.

Dipublikasi di Kasunanan | Tinggalkan komentar

Riwayat Singkat Raja Kasunanan Surakarta

S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII

Putra Dalem suwarga S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XI nomor sepuluh putra dari Prameswari Gusti Kangjeng Ratu Pakoe Boewono XI, yang lahir di hari Selasa Legi Jam sebelas siang tanggal ke dua puluh ramelan Dal 1855, Wuku Kuningan Mangsa Sepuluh Windu Sangara Lambang Langkir atau 14 April 1925.

Waktu kecil beliau gemar mempelajari tarian dan yang paling degemari adalah tari Handogo dan tari Garuda. Beliau juga “gemar mengaji” pada Bapak Prodjowijoto dan Bapak Tjandrawijata dari Mambaul Ulum. Bersekolah di luar istana, di ELS (Europesche Lagere Scholl) selama 7 tahun. Tamat tahun 1938, lalu masuk HBS di Solo dan pindah ke Bandung (Hagere Scholl). Kegemaran beliau yang lain duduk di lapangan dan konsentrasi merentangkan tali busur membidikkan anak panah, olah raga Panahan.

20 Juli 1939
20 Juli 1939 atau Kamis Legi 3 Jumadilakir 1870 Wuku Gumrek Mangsa Satu Windu Hati. S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII mendapatkan sesebutan (gelar) Raden Mas Gusti di Pasewakan Agung. Sebelumnya, sewaktu masih muda bernama Bandoro Raden Mas Surya Guritna ketika ayahandanya BKPH Hangabehi naik tahta menjadi S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XI.

29 Juli 1939
Sabtu Kliwon 13 Jumadilakir JE 1879 Wuku Warigalit Mangsa Satu Windu Hati. I.S.K.S. Pakoe Boewono XII mengambil keputusan untuk sekolah di HBS Bandung.

27 Juni 1941
27 Juni 1941atau Jumat Wage 2 Jumadilakir JE 1872 Wuku Mrakeh Mangsa Satu Windu Hati S.I.S.K/S. Pakoe Boewono XII menjalani Tetak/Supit.

2 Mei 1945
2 Mei 1945 atau Kamis Legi 19 Dulkangidah Jimakir 1872 Wuku Wuku Mangsa 6 Windu Hati Lambang Langkir. S.I.S.K.S.Pakoe Boewono XI ayahanda Pakoe Boewono XII meninggal dunia.

Di Pasewakan Agung S.I.S.K.S.Pakoe Boewono XI akan diberangkatkan ke Imogori, para pengusung keranda berhenti di bangsal Sri Manganti. Diumumkan saat itu juga bahwa Kangjeng Gusti Pangeran Harya diangkat menjadi Putera Mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Aryo Hamengkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram.

12 Juni 1945
12 Juni 1945 atau Kamis 2 Syaban Tahun ehe 1876, Jumeneng Dalem di Karaton Surakarta Hdiningrat sebagai raja ke-12. Tanggal ini yang seterusnya dijadikan wewaton/patokan Tingalan Dalem Jumenengan di Karaton Surakarta Hadiningrat. S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII mendapat gelar dari masyarakat sebagai SINUWUN AMARDIKA karena dinobatkan menjadi raja pada tanggal 12 Juli 1945 yang sedang 35 hari kemudian (selapan) tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Saat naik tahta S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII berusia 20 tahun.

17 Agustus 1945
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

18 – 19 Agustus 1945
Di kota Solo dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang bertugas menjelaskan tentang kemerdekaan dan menggugah rasa persaudaraan bangsa Indonesia, dengan ketua: K.R.M.T.H. Wuryaningrat, serta anggota: Mr. Soekasno, R.T. Brodjonagoro, dr. Kartono dan R. Ng. Darmopranoto.

19 Agustus 1945
Menerima surat pengakuan berupa Piagam Kalenggahan Ingkang Jumeneng Kepala Daerah Istimewa Surakarta dari pemerintah Republik Indonesia yang ditandatangani Presiden R.I. Ir. Soekarno.

23 Agustus 1945
PPKI diganti dengan Komite Nasional Indonesia Surakarta, dengan ditambah beberapa anggota antara lain: Hajimoekti, Suiprapto, G.P.H. Suryohamidjojo, R.T. dr. Mangundiningrat, Sutopo Hadisuparto, JJ. Kasimo, Mulyadi Joyomartono, Maladi, Sujono.

Ada petunjuk dari pemerintah pusat RI, supaya lancar dalam proses merebut kekuasaan dari penjajah Jepang, Ketua Komite Nasional Indonesia untuk wilayah Surakarta diganti mantan perwira PETA yaitu Mr. R.M.T. Haryo Sumodiningrat.
1 September 1945

S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII mengeluarkan wara-wara/Pengumuman yang isinya:
- Sri Susuhunan Pakoe Boewono XII beserta seluruh kerabat Karaton berdiri di belakang Pemerintah RI (mendukung Pemerintah RI).
-Daerah Surakarta juga merupakan bagian dari wilayah RI.
-Hubungan Daerah Istimewa Surakarta dengan Pemerintah Pusat RI tidak melalui daerash tetapi bersifat langsung.

12 – 13 Oktober 1945
Ikut serta menyerbu Markas Kenpetai Solo di kalurahan Kemlayan. S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII juga berkenan ikut melakukan penyerbuan ke markas Kenpetai di Timuran dengan beberapa anggota KNI dan berhasil dengan selamat. Dari kerabat Karaton ada yang meninggal bernama Arifin. Pahlawan ini oleh S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII mendapat anugerah Tanda Tabuh Tabet berujud Medali Sri Kabadyo Tingkat III. Jenazahnya dinaikkan Kereta Layon Kagungan Dalem dengan ditarik 4 ekor kuda serta diiringi beberapa bregodo prajurit Karaton.

Oktober 1945
Sewaktu melakukan penyerbuan ke Markas Kido Butai di daerah Mangkubumen, S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII juga menyempatkan berangkat bersama Anggota KNI dan berhasil dengan selamat.

17 Oktober 1945
K.R.M.H. Drs. Sosrodiningrat, orang kepercayaan S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII, diculik oleh gerombolan komunis. Peristiwa ini membuat kerabat Karaton tercekam dan menimbulkan kekhawatiran, penggantinya K.R.M.T. Yudonegoro.

19 Oktober 1945
Komisaris Tinggi mengubah sistem pemerintahan daerah Surakarta dari sistem Delegasi menjadi Direkturium yang selanjutnya membentuk COLLEGIAL BESTUUR, dengan ketua R.P. Soeroso serta anggotanya S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII dan Mangkunegoro VIII.

Tetapi karena menyalahi aturan demokrasi, S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII dan Mangkunegoro VIII menentang perubahan sistem pemerintahan tersebut. Seperti diketahui bahwa begitu kuatnya arus komunisme melanda Surakarta pada masa revolusi, maka banyak terjadi kejadian yang mulai meresahkan masyarakat.

1 Nopember 1945
S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII menjadi Ketua Direkturium, Mangkunegoro VIII menjadi Wakil Ketua.

15 Maret 1946
Pepatih Dalem yang baru K.R.M.T. Yudonagoro juga diculik oleh gerombolan komunis, maka diangkat Patih lagi K.R.M.H. Wuryaningrat yang tidak lama kemudian juga diculik tetapi akhirnya diturunkan di daerah Gladag.

12 April 1946
Sembilan Pembesar Kepatihan diculik gerombolan komunis: karena desakan yang disertai ancaman bersenjata terhadap para Pamong Praja, maka banyak Bupati yang melepaskan diri dari Pemerintah Daerah Surakarta.

26 April 1946
Jam 12.00 WIB Kabupaten Klaten melepaskan diri dari Pemerintah Daerah Surakarta.

27 April 1946
Jam 14.00 WIB Kabupaten Sragen melepaskan diri dari Pemerintah Daerah Surakarta.

23 Mei 1946
Pertemuan antara Pemerintah Pusat RI yang diwakili oleh: St. Sjahrir, Amir Syarifudin dan Sudarsono dengan Pemerintah Daerah Istimewa Surakarta yang diwakili oleh: S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII, Mangkunegoro VIII, K.R.M.T.H. Wuryaningrat dan K.R.M.T.H. Partohandoyo, bertempat di Javanche Bank Solo (sekarang Bank Indonesia di Solo). Hasilnya, kesepakatan bahwa karena situasi semakin kacau dan dikhawatirkan akan menjalar ke segala penjuru, untuk sementara pemerintahan di pegang secara sentral.

15 Juni 1946
Penetapan Pemerintah No.16/SD/46 yang isinya: sebelum bentuk Pemerintah Daerah Kasunanan dan Mangkunegaran ditetapkan dengan Undang-undang, untuk sementara dipandang sebagai Daerah Karesidenan seperti daerah lain yang dipimpin oleh seorang Residen yang memimpin segenap Pamong Praja dan Polisi.

3 Juli 1946
Kabupaten Boyolali melepaskan diri dari Pemerintah Daerah Istimewa Surakarta.

8 Agustus 1946
Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU). Di Surakarta dibentuk Badan Perwakilan Rakyat untuk mengurusi rumah tangga, sedangkan kekuasaan tetap di tangan Residen.

2 Juni 1947
Dikeluarkan UU No. 16/47 yang isinya pembentukan pemerintahan kota yang dikepalai oleh seorang Walikota. Di tahun 1948 Undang-undang yang mengatur Pemerintah Daerah No.22 pasal 18 ayat 5 yang menyatakan Kepala Daerah Istimewa diangkat oleh Presiden dari keturunan keluarga yang berkuasa dari jaman sebelum Republik Indonesia, tetapi di dalam pembahasan Sidang Komite Nasional Pusat, kata-kata dalam pasal 18 mengalami perubahan.

24 Nopember 1951
S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII menerima surat dari Dewan Menteri No. 66/5/38 yang isinya menyatakan tentang rancangan pengaturan pemerintah Surakarta.

15 Januari 1952
S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII memberi penjelasan tentang daerah Swapraja Surakarta secara panjang lebar pada Dewan Menteri di Jakarta, dalam kesempatan ini Sinoehoen menjelaskan bahwa pemerintah Swapraja tidak mampu mengatasi gejolak dan rongrongan yang disertai ancaman bersenjata, sementara Pemerintah Swapraja sendiri tidak mempunyai alat kekuasaan.

25 Januari 1952
Surat rancangan Menteri Dalam Negeri dan Surat Balasan Pakoe Boewono XII dirembug dalam sidang Dewan Menteri. Akhirnya Presiden menyetujui akan kekuasaan Karaton Surakarta.

9 Juni 1954
Mulai tanggal 19 Juni 1954, S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII meninggalkan Karaton Surakarta untuk melanjutkan sekolah di Jakarta. Mengangkat KGPH Koesoemojoedo menjadi wakil Soesoehoenan PB XII.

9 Februari 1956
Mulai 15 Februari 1956, PB XII berhenti belajar dan kembali memegang kekuasaan di Karaton Surakarta dengan dibantu oleh Badan Penasehat Karaton Surakarta.

24 April 1956
Berdirinya Pawiyatan Kebudayaan Karaton Surakarta.

17 Nopember 1964
PB XII mendapat pangkat Letnan Kolonel efektif dari Presiden Soekarno.

31 Januari 1985
Malam jum’at wage, Karaton Surakarta terbakar jam 21.00 WIB, tepatnya bangunan Sasana Parasedya, Sasana Sewaka, Sasana Handrawina, Dalem Prabasuyasa, Dayinta dan Paningrat.

5 Februari 1985
PB XII melapor kepada Presiden Soeharto tentang kebakaran di Karaton Surakarta.

6 Februari 1985
Presiden Soeharto membentuk Panitya Swasta Pembangunan Kembali Karaton Surakarta, dinamakan Panitia 13, yaitu : Jenderal Surono, Jenderal LB. Moerdani, Mayor Jenderal Soejono Humardani, Ir. Soeyono Sosrodarsono, Ir. Soedjarwo, Ir. Purnomosidi, Prof. Dr. Soebroto, Harmoko, Ir. Hartarto, Letjen GPH. Djatikoesoema, Aryodarmoko, Ismail dan Sudwikatmono.

17 Desember 1987
Pembangunan kembali Karaton Surakarta selesai dan diadakan syukuran.

16 Juli 1988
Utusan Presiden RI, Bapak Soesilo Sudarman di Utara Sasana Parasedya menyampaikan Surat Keputusan Presiden RI tanggal 16 Juli 1988 No. 23, yang isinya menyatakan bahwa Karaton Surakarta menjadi Sumber Kebudayaan Nasional Indonesia yang harus dilestarikan dan dikembangkan.

Pemerintah menetapkan tanah Karaton dari Gladag sampai Gading termasuk bangunan dan Alun-alun dan Masjid Agung menjadi milik Karaton yang dikepalai oleh S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XII, untuk dapat digunakan untuk upacara adat sekaligus untuk Pariwisata.

Maret 1992
Keluar Undang-undang No. 5/92 tentang benda Cagar Budaya. Yang termasuk di dalamnya adalah benda buatan manusia, bergerak ataupun tidak yang berupa kesatuan/kelompok atau bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Definisi itu memperkuat posisi Karaton Surakarta sebagai Cagar Budaya yang harus dilindungi. Dengan dalih apapun, penggusuran tetap tidak diperbolehkan.

Dipublikasi di Kasunanan | Tinggalkan komentar